* Museum Nias Termasuk yang Tertata Baik

Medan (WASPADA Online) Wed, 02 July 2008

13 Museum di Sumut dalam kondisi yang mengkhawatirkan dan tidak layak dikunjungi. “Dari hasil pendataan museum yang ada di Sumut, hanya tiga museum yang tertata dengan baik dan memiliki jumlah pengunjung yang tinggi yakni Museum Nias di Kabupaten Nias, Rahmat Galery dan Museum Negeri Provsu, dimana keduanya berada di Kota Medan,” kata Ketua Asosiasi Museum Indonesia (AMI) pengurus daerah Sumut Dr Philosophy Ichwan Azhari, MS saat deklarasi AMI Sumut di Gedung Museum Negeri Provinsi Sumut, Senin (30/6).
Read more…

Tgl. 10 Juni 2008 AMDA international yang diwakili oleh ibu Mitsue Umiguchi pimpinan AMDA Perwakilan Nias menyerahkan satu unit mobil Strada kepada Museum Pusaka Nias. Donasi tersebut merupakan salah satu kepedulian AMDA dalam menunjang kegiatan operasional di Museum Pusaka Nias.

Menurut ibu Sonia dari UNORC, bahwa mendapatkan mobil tersebut sangat sulit, namun karena dukungan beberapa NGO international mendukung permohonan Museum Pusaka Nias, pada akhirnya AMDA memutuskan, bahwa mobil tersebut pantas diterima oleh Museum Pusaka Nias karena lembaga ini merupakan satu-satunya lembaga yang bergelut dalam pemeliharaan budaya masyarakat di kepulauan Nias. Selain itu Museum Pusaka Nias telah banyak membantu merehabilitasi dan merekonstruksi rumah-rumah tradisional di kepulauan Nias hingga sekarang.

Penyerahan mobil tersebut disaksikan oleh beberapa lembaga internasional dan lokal seperti UN-WFP, UN-ILO, UNORC, Help dan LPAM Nias.

Selain sumbangan mobil, AMDA juga menyumbangkan satu unit computer dan beberapa alat-alat kantor lainnya.

Dari tgl. 29 Maret – 21 Mei 2008, Museum Pusaka Nias mengadakan pameran foto-foto tentang Nias yang diperoleh dari Museum Etnologis Basel, Swiss. Pameran foto-foto tersebut terlaksana atas kerja sama Museum Pusaka Nias, Museum Etnologi Basel dan Kedutaan Swiss di Jakarta dan diselenggarakan dalam rangka memperingati 3 tahun gempa di Nias.

Pameran foto-foto tersebut dibuka secara resmi oleh Duta Besar Swiss, Jakarta.

Para Penyair dari Hilinawalö-FauCD Musik dan Syair Tradisional Nias “Hoho Hilinawalö-Fau”

Di seluruh Nias, “Hoho” bukan hanya sekedar tuturan lisan biasa. Hoho merupakan temali pengikat jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa sekarang. Jembatan yang dapat menerusakan dan menghadirikan peristiwa hidup para leluhur kepada generasinya yang masih ada hingga kini. Hoho merupakan ceritera, legenda dan mite yang dituturkan secara turun-temurun oleh orang-orang yang memiki pengetahuan karena pernah mendengar atau mempelajarinya dari orang tua.

Karena itu banyak juga syair Hoho yang dituturkan secara bervariasi dan sesuai dengan kemampuan penutur. Ini merupakan kekayaan dari hoho itu sendiri dan sekaligus menjadi kelemahan. Oleh karena itu, syair dan inti Hoho perlu dianalisa dan tidak bisa diterima atau diaminkan begitu saja.

Misalnya pada track-2 side A; penutur menyebutkan bahwa ibu “Nandrua” berasal dari seberang. Sementara versi lain juga menyebutkan bahwa Nandrua adalah isteri dari Mölö. Padahal menurut data-data yang lain yang paling bisa diterima, Nandrua adalah isteri dari ‘Ho.’

Banyak sejarah masa lalu hanya diketahui lewat tuturan Hoho. Misalnya tuturan lisan mengenai asal-muasal ke empat leluhur orang Nias “Hoho si öfa börö danömö.” Demikian juga seluk beluk mengenai Sirao, Hia dan Ho serta fenomena ibu “Nandrua” di Nias. Hoho yang dituturkan itu merupakan dasar dan awal untuk membuka cakrawala dan analisa kita tentang sejarah Ono Niha.

Read more…