04/11/16

Nibarasiana'a 'Palang Pintu' Omo Sebua

I. Pendahuluan
Nibarasiana'a.
            Sepanjang sejarahnya Omo Sebua yang ada di Bawömataluo pernah mengalami masa keemasan dan sekaligus masa kelam. Masa keemasan rumah dimaksud berlangsung selama 3 generasi pertama mulai dari Laowö, Saönigeho-Fakhoi dan terakhir Alawa-Ruyu. Sedangkan masa kelamnya dimulai sesaat setelah meninggalnya generasi terakhir dari tiga generasi yang disebutkan tadi. Di masa yang kritis ini seorang wanita yang adalah keturunan dari pendiri Omo Sebua dengan segala keterbatasan gendernya berdiri bagai palang pintu bagi rumah tersebut melawan tangan-tangan yang ingin merusak warisan leluhurnya. Dia adalah Nibarasiana’a, putri bungsu dari Si’ulu Ruyu dan cucu dari Si’ulu Saonigeho.

II. Perjalanan Omo Sebua
            Sampai hari ini Omo Sebua di Bawomataluo masih menjadi ikon kepulauan Nias. Untuk yang sejenis dengannya belum ada yang bisa menggantikannya – dan mungkin saja ke depan tidak akan ada lagi bangunan semegah itu yang bisa dibangun di daratan kepulauan Nias mengingat sumber daya yang ada sangat terbatas, ditambah lagi makin kurangnya tenaga ahli yang sanggup mengerjakan secara detail konstruksi dengan segala ornamen rumah tersebut, dan terlebih tidak adanya lagi kekuasaan absolut si’ulu Nias dalam menyatukan warga untuk melakukan pekerjaan besar itu – diantara para si’ulu tidak ada lagi yang sanggup memenuhi syarat-syarat (bosi) adat yang sedemikian rumit hingga puncaknya mendirikan Omo Sebua. Orientasi hidup orang Nias yang makin berkiblat ke arah moderenisasi semakin menutup kemungkinan untuk mengulang kembali karya monumental yang sama.
           

25/07/16

Mengidentifikasi Sosok Si'ulu Laowoziduhu

Raja dari desa Orahili. Photo: Joachim von Brenner-Felsach,
"Kunsthistorisches Museum Wien", Austria."
Pendahuluan
Mengawali tulisan ini, saya harus mengucapkan terimakasih kepada Marselino Fau, seorang pemerhati warisan budaya Nias yang telah menjadi teman diskusi dan karenanya telah mendorong saya untuk mencoba mengidentifikasi sosok Laowoziduhu lalu menguraikannya dalam tulisan singkat ini.

Laowoziduhu dalam sejarah Nias
Sepanjang yang dapat kita ketahui di kepulauan Nias (tempo dulu) ada belasan atau mungkin lebih, orang yang bernama Laowo diantaranya Laowoso'aya, Laowosa'amanu dan Laowosebua. Lebih jauh lagi sebutan Laowo ini ternyata tidak hanya sebatas nama pribadi namun telah menjadi salah satu nama marga khususnya dari daerah Pulau-pulau Batu. Terlepas dari keragaman nama dimaksud, tulisan ini khusus membahas satu sosok yang dikenal sebagai Laowoziduhu.

Laowo tepatnya Laowoziduhu Fau, namanya tercatat dengan tinta emas dalam lembaran sejarah Nias karena empat faktor utama. Pertama, dialah yang mendirikan banua Hilifanayama yang kemudian berganti nama menjadi Bawomataluo - kini menjadi salah satu destinasi wisata utama Nias dan oleh UNESCO dinominasikan menjadi warisan budaya dunia. Atas jasanya ini, dalam istilah lokal beliau disebut sebagai samakhoi banua. Satu sebutan eksklusif yang diberikan kepada orang tertentu saja. Kedua, jauh sebelum Hilifanayama didirikannya Laowo merupakan suksesor dari balo zi'ulu Lahelu'u yang memerintah di Orahili Fau. Oleh Laowo dan para pendahulunya, Orahili Fau menjadi daerah berpengaruh di Nias Selatan yang disegani oleh kawan dan ditakuti oleh musuh. Ketiga, Laowo adalah salah seorang pahlawan yang memimpin langsung pasukan Nias melawan Belanda yang mencoba masuk ke Nias Selatan. Di bawah kepemimpinan Laowo pasukan Nias dan sekutunya menjadi momok yang menakutkan bagi Belanda. Setidaknya empat kali Belanda dipecundangi oleh pasukan Nias sebelum akhirnya mereka berhasil masuk ke Orahili Fau, benteng terakhir Nias. Faktor keempat adalah Laowolah yang membangun omo nifolasara setelah ia dan warganya pindah di Hilifanayama. Semua kualifikasi tersebut membuat Laowo layak menjadi tokoh sejarah Nias.

13/07/16

Omo Ruyu, Omo Nifolasara Bawömataluo

Pendahuluan
Omo Nifolasara Bawömataluo. Photo: www.visitniasisland.com
Belakangan ini industri pariwisata kepulauan Nias kembali menggeliat bangun setelah mengalami mati suri selama belasan tahun. Masih segar dalam ingatan, dekade-dekade yang lalu Nias menjadi terkenal hingga ke mancanegara karena potensi wisatanya. Harapan akan bangkitnya industri pariwisata kepulauan paling barat di Sumatera ini tentu akan ikut mendongkrak jumlah pengunjung ke situs penting Nias Selatan yaitu omo nifolasara Bawömataluo.
Ribuan wisatawan telah menginjakan kaki masuk ke dalam omo nifolasara namun (mungkin saja) sedikit sekali yang tahu kalau rumah itu pernah disandingkan dengan nama seorang generasi ketiga yang mendiaminya yaitu Ruyu, putra Saönigeho, cucu Laowö. Untuk itu dalam tulisan ini  akan dijelaskan secara singkat alasan logis penyebutan omo nifolasara Bawömataluo sebagai rumahnya Ruyu. Diharapkan tulisan ini memberi kontribusi dalam memperkaya informasi tentang warisan budaya Nias kepada para wisatawan.

Pembangunan Omo Nifolasara Bawömataluo
Keberadaan omo nifolasara Bawömataluo yang kini berusia sekitar 150 tahun di tengah-tengah deretan ratusan rumah tradisional lainnya bukan tanpa dasar. Pembangunan rumah ini tidak terlepas dari peristiwa penyerangan pasukan Belanda yang membumihanguskan Orahili Fau. Bencana itu membuat para si'ulu (bangsawan) Orahili dan rakyatnya mengungsi hingga akhirnya memutuskan bermukim di bukit yang sekarang dinamakan Bawömataluo. Di tempat baru tersebut mereka berpacu membangun lambang-lambang kebesarannya termasuk omo nifolasaranya untuk menunjukan kepada musuh bahwa mereka masih eksis bahkan jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Sebagaimana tujuan awalnya, rumah ini dibangun bukan hanya sekedar tempat tinggal biasa, sehingga rancangan konstruksinya, interiornya, perabotannya dan setiap sudutnya benar-benar mendemonstrasikan kebesaran pemiliknya. Dan marwah itu masih terpancar sampai sekarang tak lengkang oleh waktu sekalipun fisiknya sudah semakin tua. Untuk rumah ini Laowö, sang pendirinya sekaligus pendiri Bawömataluo pernah melantunkan hoho (syair) demikian: 'ma iotamahögö Mazinö, ma isalogoi Maenamölö.' Dalam terjemahan bebasnya berarti: Rumah yang berhadap-hadapan dengan kawasan Mazinö dan menaungin kawasan Maenamölö. Satu kalimat yang dapat diinterpretasikan sebagai pesan hegemoni atas kedua kawasan dimaksud.

22/02/16

Sejarah Portugis di Indonesia



Balai Kota di Münster, Jerman.
Pada tahun 1505 Armada Portugis bertolak di Lisbon, ibukota negara Portugal, dengan 22 Kapal Laut, l/k 1.000 orang awak kapal dan 1.500 prajurit. Komando di tangan Francesco de Almeida yang sebelumnya diangkat oleh raja Portugis menjadi  Wakil Raja Portugis untuk India. 3 dari 22 kapal berada di bawah komando seorang pedagang Jerman yang bernama Andreas Imhoff (Endres). Ekspedisi itu berhasil, dan Portugis mulai berkuasa di Asia Tenggara. Tujuan utama ialah mencari pulau-pulau yang kaya dengan rempah-rempah.

Tetapi pada akhir abad ke-16 makin banyak orang Belanda datang, tertarik dari perdagangan dengan rempah-rempah.  Dan pada tahun 1602 mereka mendirikan VOC (Vereinigte Niederländische Ostindien-Companie) dengan pusat di Batavia (Jakarta). Tentara VOC direkrut dari berbagai negara Eropa. Separuh dari mereka berasal Jerman.
 

 Antara tahun 1568 dan tahun 1648 di Eropa terjadilah perang antara Belanda dan Spanyol.Belanda ingin lepas dari kuasa Spanyol. Sedangkan Portugal pada waktu itu masih sebagai penganut Spanyol. Perang  berlangsung 80 tahun lamanya. Akhirnya Belanda meraih kemerdekaan. Pada tahun 1648 diadakan perdamaian di balai kota Münster, Jerman. Sampai sekarang banyak orang Belanda berkunjung ke kota Münster untuk melihat Friedens-Saal, ruangan bersejarah di balai kota dimana diadakan perdamaian dan Belanda menjadi negara otonom.

Kathedral Santo Paulus di Kota Münster, Jerman.
Kemenangan Belanda sekaligus mengakhiri dominasi Portugis di Asia Tenggara. Belanda seterusnya mengganti Portugis dalam perdagangan dengan rempah-rempah dan sekaligus menjadi penguasa kolonial yang tunggal di Asia Tenggara.
Sprenger, Balthasar. 1509. Meerfahrt. (Expeditionsbericht . Handelshaus der Welser, Augsburg).

18/02/16

Incinerator



Sekarang sudah didirikan Incinerator di Taman Rekreasi Museum. Incinerator itu diusulkan oleh Mr. Björn Svenson, AVI, yang bersama dengan istrinya mengabdi di Museum.  Incinerator berguna untuk membakar pelbagai sampah yang tidak dapat menjadi kompos atau yang tidak dapat didaur ulang. Pakai cerobong asap supaya tidak terjadi polusi udara di sekitarnya , terlebih untuk melindungi  manusia dan hewan. 

Namanya Incinerator diambil dari bahasa Latin: cinis adalah abu (Genetiv: cineris; die cinerum: hari Rabu Abu). Abu dalam bahasa Inggris: cinder. Bersamaan dengan merayakan hari Rabu Abu pada tahun ini, tgl. 10 Februari, sudah siap Incinerator kita yang akan membantu kita, supaya lingkungan di Taman Rekreasi Museum lebih bersih.