<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Museum Pusaka Nias</title>
	<atom:link href="http://www.museum-nias.org/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.museum-nias.org</link>
	<description>Museum of Nias Heritage</description>
	<lastBuildDate>Wed, 27 Jan 2010 01:30:30 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Famadaya Saembu dan Famadaya Harimao</title>
		<link>http://www.museum-nias.org/?p=793</link>
		<comments>http://www.museum-nias.org/?p=793#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 01:30:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nataalui.duha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.museum-nias.org/?p=793</guid>
		<description><![CDATA[Famadaya Saembu dan Famadaya Harimao Pada Pesta Budaya Nias Selatan Oleh: Nata’alui Duha
Patung Saembu yang diusung pada prosesi Famadaya Saembu oleh kontingen Telukdalam yang diwakili oleh Hiliganöwö pada Pesta Budaya Nias Selatan I tahun 2009 di Lapangan Orurusa, Telukdalam, Nias Selatan.
Pada Pesta Budaya I Kabupaten Nias yang diselenggarakan di lapangan Orurusa, Kecamatan Telukdalam pada tanggal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Famadaya Saembu dan Famadaya Harimao Pada Pesta Budaya Nias Selatan Oleh: Nata’alui Duha</p>
<p style="text-align: justify;">Patung Saembu yang diusung pada prosesi Famadaya Saembu oleh kontingen Telukdalam yang diwakili oleh Hiliganöwö pada Pesta Budaya Nias Selatan I tahun 2009 di Lapangan Orurusa, Telukdalam, Nias Selatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada Pesta Budaya I Kabupaten Nias yang diselenggarakan di lapangan Orurusa, Kecamatan Telukdalam pada tanggal 7-8 Nopember 2009, terdapat beberapa pertujukkan yang manarik. Diantaranya prosesi patung harimau <em>Famadaya Harimao, </em>ditampilkan oleh Kecamataan Maenamölö yang diwakili oleh Desa Hilisimaetanö. Sedangkan <em>Famadaya Saembu</em> ditampilkan oleh kontingen kecamatan Telukdalam yang diwakili oleh desa Hiliganöwö.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika saya mendengar bahwa <em>Famadaya Saembu</em> akan dipertunjukkan, saya tidak sabar menunggu-nunggunya. Saya sungguh penasaran, karena saya belum mendapat pemahaman jelas tentang upacara ini. Saya pernah melihat perarakan patung seorang Dewi yang disebut ‘<em>Inada Larise</em>’ yang dipertunjukkan oleh desa Hilinawalö-Fau pada tahun 1999 di Museum Pusaka Nias, tapi belumlah menjawab segudang tanya yang ada dalam hatiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu saya teringat tentang buku yang ditulis oleh seorang budayan Nias Pastor Johannes. Menurut informasi yang diterima oleh P. Johannes Hämmerle, OFMCap., dari informannya di wilayah Maenamölö, upacara pematahan patung ‘<em>Saembu</em>’ yang kemudian bergeser menjadi perarakan patung <em>Saembu ‘Famadaya Saembu,’</em> merupakan upacara ritual yang sarat sakralitas sebagaimana upacara <em>Famatö Harimao</em>. Patung <em>Saembu</em> digambarkan dalam bentuk patung seorang perempuan atau Dewi sehingga diberi namanya bunda Larise ‘<em>Inada Larise</em>.’ (Hammerle, 1986;66-67).</p>
<p style="text-align: justify;">Jika patung harimau diibaratkan sebagai simbol seorang laki-laki satria, maka pasangannya adalah seorang dewi jelita. Ibarat satu pedang dengan sarungnya. Jika isi atau mata pedangnya adalah laki-laki, maka sarung ‘<em>saembu</em>’ atau ‘<em>sembu</em>’ dimana pedang ini ditempatkan adalah perempuan.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasa ingin tahuku mulai terjawab seketika lantunan syair ‘<em>hoho</em>’ yang dinyanyikan penuh dengan aksen etnik oleh para pengusung patung <em>Saembu</em> mulai menggema diikuti dengan hentakkan kaki para penari. Seluruh perhatian, mata dan telinga saya curahkan pada acara itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Muncullah para pengarak patung <em>Saembu</em> dengan penuh semangat didukung oleh pakaian dengan baju kuning berliris merah dan cawan ‘<em>öndröra</em>’ berwarna putih.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertama-tama, pandangan saya tertuju pada patung yang diusung, yang selama ini saya bayangkan sebagai patung seorang dewi jelita. Sontak saya kaget menyaksikan patung yang diarak adalah patung seorang laki-laki dengan kumis lebat, mata tajam seolah mau menerkam, bermahkota ‘<em>rai</em>’ dan anting ‘<em>fondruru</em>’ pada telinga kanannya lengkap dengan kalung ‘<em>kalabubu ana’a</em>,’ tombak di tangan kiri, dan tangan kanan memegang pedang yang terselip dipinggang. Dari penampilannya kelihatan dia seolah seorang bangsawan yang telah menyempurnakan segala proses peneguhan status sosialnya sebagai bangsawan sempurna ‘<em>si ma awali</em>’ di atas tahta.</p>
<p style="text-align: justify;">Melihat sosok yang diusung sebagai media utama dalam upacara itu, pertanyaan saya semakin menumpuk dan mau meledak. Tapi mau tanya sama siapa ya. Dari pada bingung, saya turun dari panggung dimana saya duduk bersama undangan lain, mengambil kamera saya, lalu menjepret beberapa foto tentang upacara itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya kembali ke panggung hendak duduk. Tidak jauh dari kursi saya duduk seorang tokoh adat dan budayawan senior Nias Bamböwö Lai’a yang akrab dipanggil Ama Juang berserta isterinya Sitasi Zagötö. Saya langsung menyapa mereka berdua sambil berjabat tangan. Lalu, beliu langsung bertanya: “Eh, kok bisa patung <em>Saembu</em> menjadi patung laki-laki?“ dengan ringan saya jawab, ya karena itu saya mau mencari bapak dan hendak bertanya hal yang sama. Sejauh saya dengar dan baca bahwa patung <em>Saembu</em> adalah patung seorang perempuan atau ibu atau dewi jelita. Pak Ama Juang langsung mengiyakan apa yang baru saja saya jelaskan. “Ya&#8230; begitu sama kita di wilayah Maenamölö. Patung <em>Saembu</em> adalah patung seorang perempuan atau ibu,“ lanjut beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar percakapan kami kami yang saling tidak memberi jawaban, Bapak Ama Karveni Zamili seorang tokoh adat dan bangsawan senior dari Hilizalo’otanö, yang duduk dekat kami. Ia menguraikan penjelasan perihal <em>Famadaya Saembu</em> di öri To’ene dan Mazinö.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut beliu, di To’ene Asi dan Mazinö, yang diarak pada upacara <em>Famadaya Saembu</em> adalah patung seorang laki-laki.  Dia adalah patung seorang ayah atau leluhur. Laki-laki atau Ayah yang terutama dan bukan ibu (perempuan), tegas beliau. Dalam proses perolehan dan pengkuan status sepasang suami-isteri, yang pertama melalukannya adalah laki-laki dan isteri hanyalah yang ikut atau juga terikut dalam peneguhan status suaminya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bapak tua ini menambahkan bahwa, ada juga pesta untuk meneguhkan status bagi isteri atau bagi seorang ibu. Upacara tersebut dinamakan ’<em>mondröli holi</em>.’ Pesta dan upacara ini dilakukan setelah penempahan/peleburan segala harta dalam bentuk emas “<em>mambu ana’a</em> atau <em>molömbu ana’a</em>.” Upacara tersebut dinamakan <em>mondröli holi</em> karena tubuh isteri atau ibu yang malakukan pesta dimaksud berbadan indah bagaikan daun pohon kayu <em>Siholi</em> yang sedang menguning. Ditambah lagi dengah perhiasan emas dikenakaannya pada saat upacara menghias dirinya hingga menjadi keemasan.</p>
<p style="text-align: justify;">Katanya, <em>Saembu</em> berasal dari kata <em>sembu</em> yaitu sarung pedang. Sampai pada penjelasan ini, kami memiliki persamaan titik pemahaman. Tapi kemudian, ia menambahkan bahawa <em>saembu</em> menggambarkan pembungkus, benteng yang memagar dan melindungi orang banyak. Dan itulah yang disimbolkan oleh patung <em>Saembu</em> itu. Tidak mungkin perempuan yang memagari warga. Jadi patung <em>Saembu</em> adalah patung seorang laki-laki ’Adu Nama.’</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar penjelasan Pak Ama Karveni, baik Bapak Ama Juang La’ia maupun saya, semakin penasaran. Rasanya ingin mendengar lebih banyak lagi dari bapak itu dan dari sumber-sumber lain yang meyakinkan. Sayang waktu sangat tidak menginjinkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasa penasaran saya begitu tinggi karena saya sudah terlanjur memahami dengan teguh berbagai alasan logis bahwa patung <em>Saembu</em> adalah patung seorang perempuan dan bukan laki-laki. Rasanya saya tidak sabar lagi, ingin mewawancarai orang dari desa Hiliganöwö. Saya ingin sekali mewawancarai orang yang sungguh mengetahui tradisi ini, namun saya belum tahu, siapa kira-kira yang bisa membantu.</p>
<p style="text-align: justify;">Terlepas apakah penjelasan dari Bapak Ama Karveni itu benar atau salah, dalam hati saya masih ada ganjalan. Saya semakin ingin tahu apakah informasi yang disajikan kepada kita sungguh benar atau memang kita harus mendalaminya. Kita harus menggali dan mengumpulkan data-data baru agar orang luar tidak salah memahami kebudaya orang Nias dan orang Nias salah memahami kebudayaannya sendiri. Orang Nias khususnya Nias Selatan perlu banyak berdiskusi dengan penuh keterbukaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Penjelasan Bapak Ama Karveni Zamili pada dasarnya tidak salah. Yang menjadi persoalan bagi saya adalah karena Famadaya Saembu itu tidak terlalu sering dilakukan dan kurang memasyarakat di wilayah To’ene Asi, Mazinö, dan Onolalu. Karena bisa jadi ada yang kurang dipahami soal ide yang paling dari ritus <em>Famadaya Saembu</em> itu sendiri. Bisa jadi ada perbedaan tujuan dari pelaksanaan kedua ritus pada wilayah yang berbeda. Nah&#8230; itulah yang membuat saya semaikin penasaran !</p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;">Replika Patung Saembu atau Inada Larise koleksi Museum Pusaka Nias Gunung Sitoli.</p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;">Patung harimau yang diusung pada prosesi Famadaya Harimao oleh kontingen Kecamtan Maenamölö yang diwakili oleh desa Hilisimaetanö pada Pesta Budaya Nias Selatan I tahun 2009 di Lapangan Orurusa, Telukdalam, Nias Selatan.</p>
<p style="text-align: justify;"> </p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Famadaya Harimao </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tradisi patung Harimau berasal dari desa Sifalagö Gomo-Börö Nadu. Berhubung karena sebelumnya orang Gomo tidak pernah melihat binatang Harimau, maka patung tersebut lebih menyerupai anatomi tubuh anjing. Sedangkan kepalanya menyerupai kepala anjungan kapal yang berbentuk naga “lasara.” Semenjak itu anatomi tubuh harimau selalu diingat. Patung Harimau yang pertama dibawa ke wilayah Maenamölö, Nias Selatan oleh leluhur bernama Sadawa Mölö.</p>
<p style="text-align: justify;">Berbagai rumpun di Nias Selatan berasal dari kelima putera dari Mölö. Diantara mereka (Fau, Sarumaha dan Boto) mengembangkan tradisi dan ritus dengan menggunakan patung harimau dan ritusnya disebut pematahan patung harimau ’<em>Famatö Harimao</em>’ dan sekarang ini namanya berubah menjadi ’<em>Famadaya Harimao</em>.’ Pergesran istilah dari Famatö Harimao ke prosesi patung harimau ’Famadaya Harima,’ terjadi karena pada upacara prosesi tidak lagi dilaksanakan serentetan ritual dan pembaharuan hukum ’Fondrakö.’ Akan tetapi hanya perarakan patungnya saja, karena orang Nias ’<em>Ono Niha</em>’ telah menjadi Kristen dan telah memiliki hukum nasional dari Pemerintah Negera Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Rumpun yang lain (Tachi dan Hondrö) mengembangkan tradisi dengan menggunakan patung seorang dewi yang jelita yang disebut ’Inada Larise’ dan ritusnya dinamakan ’Famadaya Saembu.“ Tapi mungkin karena mereka semua berasal dari leluhur yang sama, tradisi dengan menggunakan kedua patung ini dikembangkan bersama-sama di wilayah Maenamölö tanpa ada lagi pembedaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ritus “Harimao” dilaksanakan sekali setiap tujuh tahun. Setiap rumpun membuat patung harimau, lalu melalui perarakan, mereka membawa patung tersebut ke desa Onohondrö. Di dekat sungai Gomo, mereka membuang patung harimau tersebut pada lubuk air terjun yang disebut Sumali.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan membuang patung itu masyarakat setempat percaya bahwa segala pelanggaran atas hukum, kesalahan, dosa dan kejahatan yang mereka lakukan pada tahun sebelumnya hanyut bersama patung itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah ritus purifikasi dilaksanakan, para pemimpin desa di wilayah Maenamölö berkumpul di desa Hili’amaigila untuk mengikuti upacara pembaharuan hukum (Fondrakö). Hukum lama diperbaharui dan jika perlu diganti dengan aturan baru (Hämmerle, 1986:66-67).</p>
<p style="text-align: justify;">Ritus Famatö Harimao merupakan ritus rekonsiliasi dan pembaharuan hukum agar terjadi harmoni di kosmos demi kesejahteraan manusia.</p>
<img src="http://www.museum-nias.org/?ak_action=api_record_view&id=793&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.museum-nias.org/?feed=rss2&amp;p=793</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HUT Museum Pusaka Nias ke- 14</title>
		<link>http://www.museum-nias.org/?p=771</link>
		<comments>http://www.museum-nias.org/?p=771#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 04:16:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nataalui.duha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Museum]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.museum-nias.org/?p=771</guid>
		<description><![CDATA[Bertepatan dengan Hari Pahlawan Nasional, pada Hari Selasa tanggal 10 Nopember 2009, persis pada 10 Nopember tahun 1995 yang lalu, mantan Bupati Nias alm. Drs. Tal Larosa meletakkan batu pertama pendirian gedung induk Museum Pusaka Nias. Bersamaan dengan itu, pameran sementara yang ditempatkan pada ruangan darurat dibuka untuk umum. Kini dalam umur 2 x 7 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-773" style="margin: 10px;" title="Presentasi Budaya" src="http://www.museum-nias.org/wp-content/uploads/2009/11/Presentasi-Budaya.jpg" alt="Presentasi Budaya" width="147" height="98" />Bertepatan dengan Hari Pahlawan Nasional, pada Hari Selasa tanggal 10 Nopember 2009, persis pada 10 Nopember tahun 1995 yang lalu, mantan Bupati Nias alm. <img class="size-full wp-image-775 alignright" style="margin: 10px;" title="Mengolah Kuliner Khas Nias 'Gowi Nilökha.1" src="http://www.museum-nias.org/wp-content/uploads/2009/11/Mengolah-Kuliner-Khas-Nias-Gowi-Nilökha.1.jpg" alt="Mengolah Kuliner Khas Nias 'Gowi Nilökha.1" width="152" height="133" />Drs. Tal Larosa meletakkan batu pertama pendirian gedung induk Museum Pusaka Nias. Bersamaan dengan itu, pameran sementara yang ditempatkan pada ruangan darurat dibuka untuk umum. Kini dalam umur 2 x 7 tahun itu, Museum Pusaka Nias terus membenahi diri dan membulakan tekad untuk mempertahankan identitas Ono Niha dan menjadikannya sebagai sumber inspirasi serta modal dalam mengembangkan diri. HUT museum ini diawali dengan misa (kebaktian) bersama staf pada pagi hari, dipimpin langsung oleh Direktur sekaligus inisiator museum ini P. Johannes M. Hammerle, OFMCap.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-776" style="margin: 10px;" title="Memberi penjelasan pada pengunjung" src="http://www.museum-nias.org/wp-content/uploads/2009/11/Memberi-penjelasan-pada-pengunjung.jpg" alt="Memberi penjelasan pada pengunjung" width="142" height="109" />Misa itu dikhususkan untuk bersyukur kepada Tuhan dan untuk memohon penyelenggaraan Ilahi dalam pengembangan keberlanjutan museum ini ke depan.</p>
<p><img class="size-full wp-image-777 alignright" style="margin: 10px;" title="Demonstrasi pengolahan Gowi Nilökha kepada pengunjung" src="http://www.museum-nias.org/wp-content/uploads/2009/11/Demonstrasi-pengolahan-Gowi-Nilökha-kepada-pengunjung.jpg" alt="Demonstrasi pengolahan Gowi Nilökha kepada pengunjung" width="148" height="111" /></p>
<p>Selain itu, doa safaat juga disampaikan bagi orang-orang dan lembag yang telah turut dalam perjuangan pembangunan dan pengembangan museum ini dari dulu hingga sekarang.</p>
<p>Museum yang dibuka seharian secara gratis kepada umum itu, diisi dengan berbagai kegiatan, diantaranya demonstrasi kuliner khas Nias yaitu <strong>Gowi nilökha, Gowi nibogö </strong>dan <strong>ko</strong><strong>pi </strong>ala Nias. Selain itu, pengunjung juga mengikuti presentasi dan demonstrasi alat musik tradisional, penjelasan/ pemanduan terarah dalam ruangan pamerah dan pemutaran film dokumenter pusaka Nias.</p>
<p><img class="size-full wp-image-778 alignleft" style="margin: 10px;" title="Pengunjung mencoba membuat adonan Gowi Nilökha" src="http://www.museum-nias.org/wp-content/uploads/2009/11/Pengunjung-mencoba-membuat-adonan-Gowi-Nilökha.jpg" alt="Pengunjung mencoba membuat adonan Gowi Nilökha" width="153" height="112" /></p>
<p>Terhitung dari jam 9 pagi hingga jam 5 sore, museum ini dikunjungi 2641 orang terutama pelajar, mahasiswa dan juga masyarakat umum.</p>
<p>SEGENAP PENGURUS YAYAYASAN PUSAKA NIAS DAN MUSEUM PUSAKA NIAS MENGUCAPKAN TERIMA KASIH YANG SETINGGI TINGGINYA BAGI SEMUA PIHAK YANG TELAH MENDUKUNG KEBERLANGSUNGAN DAN PENGEMBANGAN MUSEUM NI</p>
<p>AS INI.</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><img class="alignleft size-full wp-image-779" title="Mengaduk Gowi Nilökha dengan pengunjung.2" src="http://www.museum-nias.org/wp-content/uploads/2009/11/Mengaduk-Gowi-Nilökha-dengan-pengunjung.2.jpg" alt="Mengaduk Gowi Nilökha dengan pengunjung.2" width="167" height="92" /></p>
<p style="text-align: center;"><img class="alignleft size-full wp-image-780" title="Mengsangrai Kopi Nias" src="http://www.museum-nias.org/wp-content/uploads/2009/11/Mengsangrai-Kopi-Nias.jpg" alt="Mengsangrai Kopi Nias" width="116" height="93" /></p>
<p style="text-align: center;"><a rel="attachment wp-att-781" href="http://www.museum-nias.org/?attachment_id=781"><img class="alignleft size-full wp-image-781" title="Biji kopi yang sedang disangrai" src="http://www.museum-nias.org/wp-content/uploads/2009/11/Biji-kopi-yang-sedang-disangrai.jpg" alt="Biji kopi yang sedang disangrai" width="107" height="91" /></a></p>
<img src="http://www.museum-nias.org/?ak_action=api_record_view&id=771&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.museum-nias.org/?feed=rss2&amp;p=771</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekali Lompat Seratus Ribu</title>
		<link>http://www.museum-nias.org/?p=768</link>
		<comments>http://www.museum-nias.org/?p=768#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 01:39:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fabius.ndruru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.museum-nias.org/?p=768</guid>
		<description><![CDATA[Senin, 12 Oktober 2009 &#124; 08:03 WIB
Pulau Nias di sebelah Barat Pulau Sumatra bukanlah tujuan wisata yang jamak. Untuk datang ke sana, tingkat kesulitannya cukup tinggi. Tetapi, banyak jalan menuju Nias. Dari Medan, ada dua maskapai penerbangan – Merpati Airlines dan Riau Airlines – yang menerbangi rute ini setiap hari. Dari Padang, Riau Airlines juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Senin, 12 Oktober 2009 | 08:03 WIB</p>
<p>Pulau Nias di sebelah Barat Pulau Sumatra bukanlah tujuan wisata yang jamak. Untuk datang ke sana, tingkat kesulitannya cukup tinggi. Tetapi, banyak jalan menuju Nias. Dari Medan, ada dua maskapai penerbangan – Merpati Airlines dan Riau Airlines – yang menerbangi rute ini setiap hari. Dari Padang, Riau Airlines juga secara terjadwal terbang ke Gunungsitoli.</p>
<p>Kunjungan saya minggu lalu ke Pulau Nias antara lain adalah untuk membantu Museum Pusaka Nias. Sekaligus menguji-coba program “<em>Be the Best</em>” yang sudah lama ingin saya kembangkan, di samping melaksanakan misi sebagai Dewan Pimpinan BPPI (Badan Pelestarian Pusaka Indonesia).</p>
<p>Saya terpana, bulu kuduk saya meremang, ketika diantar masuk ke dalam Museum Pusaka Nias (MPN) ini. Di antara semua museum di pelosok yang pernah saya kunjungi, sudah pasti MPN adalah yang terbaik. Luar biasa! Bukan saja MPN istimewa karena koleksinya yang lengkap, banyak, dan bernilai, tetapi juga cara penataannya yang bagus.</p>
<p><span id="more-768"></span>Maaf, bila saya berkomentar negatif terhadap keberadaan museum di Indonesia. Kebanyakan museum kita tak ubahnya seperti gudang barang-barang tua yang tidak diatur dengan baik, ruangannya lembab dan berbau jamur, barangkali malah juga tidak terawat dengan baik.</p>
<p>Keunggulan MPN adalah koleksi benda-benda pusaka bernilai tinggi yang sangat lengkap. Semuanya dipajang secara sistematis dan elok dipandang. Sebagai mantan mahasiswa arsitektur yang meminati sejarah arsitektur, bagi saya koleksi yang paling bernilai tinggi di MPN adalah maket bangunan-bangunan rumah tradisional dari berbagai daerah di pulau ini.</p>
<p>Museum Pusaka Nias dirintis oleh Johannes Hammerle, seorang pastor dari Ordo Kapusin berasal dari Jerman, yang sudah 35 tahun bertugas dan bermukim di Nias. Pastor Johannes bahkan sudah menulis beberapa buku etnologis tentang Tano Niha (Tanah Nias) dan Ono Niha (orang Nias). Saya iri akan dedikasi Pastor Johannes terhadap Nias yang sudah menjadi tanah air keduanya.</p>
<p>Melihat maket rumah-rumah adat Nias di MPN membuat saya berkeinginan untuk berkunjung ke Kecamatan Sirombu di pantai Barat pulau ini. Dari Gunungsitoli, melalui jalan mulus buatan BRR (Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi), perjalanan dapat ditempuh dalam waktu kurang dari dua jam. Sayangnya, ada beberapa bagian jalan yang rusak karena tanah longsor.</p>
<p>Di sepanjang jalan banyak penjual B1 dan B2 panggang di warung-warung yang juga menyediakan tuak mentah (legen atau cairan segar dari tetes nira) maupun tuak suling (legen yang sudah difermentasikan dan disuling menjadi minuman berkadar alkohol tinggi). Saya sempat singgah untuk mencicipi buah langsat yang sedang musim. Langsat Nias jauh lebih manis daripada langsat daerah lain yang pernah saya cicipi.</p>
<p>Memasuki Kecamatan Sirombu, dari ketinggian kawasan perbukitan sudah tampak Samudra Indonesia yang biru membentang. Di Kecamatan Sirombu ini masih ada beberapa desa yang memiliki kekayaan “koleksi” rumah-rumah tradisional. Sayangnya, tsunami pada tahun 2004 disusul gempa besar yang terjadi pada tahun 2005 telah merusakkan sebagian rumah-rumah dan perkampungan adat ini. Desa yang saya kunjungi telah direhabilitasi dengan dana hibah dari Bank Dunia.</p>
<p>Rumah-rumah di desa ini terbuat dari kayu dengan atap dari rumbia. Denah rumahnya berbentuk membulat pada sudut-sudutnya – mengingatkan kita pada arsitektur kapal. Arsitektur rumah di Nias Barat memang berbeda dengan rumah-rumah di Nias Selatan – terutama dilihat dari bentuk sudut-sudutnya dan atapnya. Tetapi, semua rumah tradisional di Nias selalu berbentuk panggung dengan tiang-tiang penopang yang – menurut saya – berlebihan (<em>overbuilt</em>).</p>
<p>Uniknya, masyarakat Nias selalu menempatkan jemuran pakaian di depan rumah. Kuburan para leluhur pun langsung berada di depan rumah. “Pemandangan unik” ini masih lagi ditambah dengan belasan parabola yang “dipamerkan” di bagian depan rumah, sehingga menhir dan berbagai arca batu di depan rumah menjadi “tenggelam”. Kuburan memang bagian dari tradisi. Tetapi, jemuran dan parabola mestinya bertempat di belakang.</p>
<p>Sayangnya pula, banyak atap rumbia yang kini diganti dengan seng. “Orang sekarang takut memanjat atap, Pak,” kata mereka memberi alasan. Atap rumbia memang perlu sering dirawat, dan memanjat atap bukanlah pekerjaan aman yang menyenangkan bagi masyarakat masa kini.</p>
<p><strong>Seratus ribu</strong></p>
<p>Pada hari lain, saya juga sempat berkunjung ke Bawomataluo di bagian Selatan. Bawomataluo berarti Negeri Matahari. Ini memang merupakan tujuan wisata yang penting di Nias dan sudah cukup populer. Tujuan wisata utama di sini adalah melihat rumah raja yang ukurannya memang sangat besar, dengan “kaki-kaki” dari kayu bulat utuh berukuran besar-besar. Untuk mencapai plaza dataran batu ini, kita harus mendaki sekitar 80 anak-anak tangga batu – seolah-olah kita menggapai matahari di atas sana.</p>
<p>Plaza luas itu “dipagari” puluhan rumah-rumah tradisional. Rumah raja paling besar dan paling tinggi. Di depan rumah ada dua lempeng batu sangat besar, dihaluskan dan diukir tepinya – dulu dipakai sebagai tempat duduk raja untuk menonton berbagai pertunjukan. Salah satu atraksi yang terkenal adalah lompat batu. Tumpukan batu berbentuk piramid tumpul setinggi lebih dari dua meter dilompati oleh seorang pemuda berpakaian adat.</p>
<p>Ada beberapa orang yang terlatih dan selalu siap untuk menunjukkan atraksi ini. Berbayar, tentu saja. Bila Anda pintar menawar, cukup seratus ribu rupiah untuk sekali loncat. Kalau kamera Anda belum siap, berarti Anda harus rela mengupas selembar ratusan ribu lagi dari dompet.</p>
<p>Biasanya, para pelompat selalu ingin melihat hasil jepretan Anda. Komentar standar mereka: “Wah, ini kurang cantik posisinya. Harusnya ketika saya sedang berada pas di atas batu.” Paham, ‘kan?</p>
<p>Tidak jauh dari Bawomataluo, di Kecamatan Teluk Dalam ini juga ada Pantai Sorake yang dikenal dalam Lonely Planet sebagai <em>the surfers’ beach</em>. Pantai ini memang indah, dan gelombang ombaknya memenuhi syarat untuk berselancar. Di sekitar Sorake banyak dijumpai fasilitas penginapan bagi para peselancar yang hampir semuanya datang dari mancanegara.</p>
<p>Jangan lewatkan berkunjung ke Desa Hiliamaetaniha di Kecamatan Teluk Dalam ini. Dengan dana dari Muslim Aid yang disalurkan melalui BPPI, rumah-rumah di desa ini juga direhabilitasi di bawah pengawasan Pastor Johannes.</p>
<p>Agak sulit bicara soal makan-makan di Nias, karena pulau ini penduduknya memang mayoritas beragama Kristen dan Katholik. Tentu saja, kecuali di bulan, rumah makan padang selalu ada di mana-mana, termasuk di Nias. Yang non-halal saya ceritakan sebatas tradisi saja.</p>
<p>Ketika menyertai I Gusti Ayu Shintya, putri Catrini Kubontubuh dari Bank Dunia, yang mengunjungi dan membagi alat-alat tulis di sebuah SD di Desa Maliwaa, Kecamatan Idano Gawo, kami dijamu oleh Kepala Desa dengan santapan adat, yaitu simbi. Simbi adalah bagian rahang bawah babi yang dagingnya sangat empuk dan berlemak. Berikut tulang-tulang rahangnya, daging ini hanya direbus dengan garam. Makannya dicocol dengan kecap asin atau sambal yang mirip colo-colo.</p>
<p>Tentu saja Nias juga kaya akan <em>seafood</em>. Di Gunungsitoli ada beberapa rumah makan yang khusus menyediakan ikan bakar dan masakan ikan lainnya.  Tetapi, ada satu tempat sekitar 45 menit di Utara kota yang menyajikan ikan bakar dalam penyajian sangat khas. Tempat persis sebelum Jembatan Boi, dekat Pantai Charlita.</p>
<p>Semua <em>seafood</em> di sini hanya dibakar dengan sedikit garam. Sambalnya yang minimalis – irisan cabe rawit, bawang merah, dan perasan jeruk nipis, sangat mirip dabu-dabu – membuat rasa natural ikannya justru menonjol. Ketika saya pesan sayur – order yang agak “aneh” di Nias – pemiliknya langsung pergi ke pasar membeli sawi dan khusus ditumis bagi rombongan kami. He he he . . .</p>
<p><strong>Bondan Winarno</strong></p>
<img src="http://www.museum-nias.org/?ak_action=api_record_view&id=768&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.museum-nias.org/?feed=rss2&amp;p=768</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Video Tari Moyo</title>
		<link>http://www.museum-nias.org/?p=755</link>
		<comments>http://www.museum-nias.org/?p=755#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 13:57:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gratiano Telaumbanua</dc:creator>
				<category><![CDATA[Beranda]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Museum]]></category>
		<category><![CDATA[Video]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.museum-nias.org/?p=755</guid>
		<description><![CDATA[Ini merupakan suatu atraksi yang dilakukan dalam sebuah pelatihan tentang pemahaman budaya bagi anak sekolah seberapa besar minat mereka mempelajari budayanya.

yw.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini merupakan suatu atraksi yang dilakukan dalam sebuah pelatihan tentang pemahaman budaya bagi anak sekolah seberapa besar minat mereka mempelajari budayanya.</p>
<p><object width="425" height="344"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/DBRuTbxlyQA&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/DBRuTbxlyQA&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"></embed></object></p>
<p>yw.</p>
<img src="http://www.museum-nias.org/?ak_action=api_record_view&id=755&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.museum-nias.org/?feed=rss2&amp;p=755</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Video Koordinator P3N</title>
		<link>http://www.museum-nias.org/?p=753</link>
		<comments>http://www.museum-nias.org/?p=753#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 13:49:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gratiano Telaumbanua</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Museum]]></category>
		<category><![CDATA[Video]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.museum-nias.org/?p=753</guid>
		<description><![CDATA[Rekaman ini tentang Pelatihan Inventory yang dilaksanakan oleh Museum Pusaka Nias, untuk melatih peserta latihan bagaimana mendata, melihat, dan mendokumentasikan pusaka/warisan leluhur yang ada di daerah masing-masing.
Pelatihann ini akhirnya membentuk sebuah Perhimpunan yang fungsinya untuk menghimpun pusaka-pusaka nias dari segi data yang akhirnya akan membuat dalam sebuah ensiklopedia. Pembentukan perhimpunan itu disingkat P3N (PERHIMPUNAN PELESTARI [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rekaman ini tentang Pelatihan Inventory yang dilaksanakan oleh Museum Pusaka Nias, untuk melatih peserta latihan bagaimana mendata, melihat, dan mendokumentasikan pusaka/warisan leluhur yang ada di daerah masing-masing.<br />
Pelatihann ini akhirnya membentuk sebuah Perhimpunan yang fungsinya untuk menghimpun pusaka-pusaka nias dari segi data yang akhirnya akan membuat dalam sebuah ensiklopedia. Pembentukan perhimpunan itu disingkat P3N (PERHIMPUNAN PELESTARI PUSAKA NIAS)</p>
<p><object width="425" height="344"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/-RrKZ13LFVc&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/-RrKZ13LFVc&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"></embed></object></p>
<p>yw.</p>
<img src="http://www.museum-nias.org/?ak_action=api_record_view&id=753&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.museum-nias.org/?feed=rss2&amp;p=753</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Video Fame Afo</title>
		<link>http://www.museum-nias.org/?p=750</link>
		<comments>http://www.museum-nias.org/?p=750#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 13:44:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gratiano Telaumbanua</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Museum]]></category>
		<category><![CDATA[Video]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.museum-nias.org/?p=750</guid>
		<description><![CDATA[Judul lagu Fame Afo adalah satu dari 9 buah judul yang telah direkam gambar dan audionya di kompleks Museum. Perekaman dilakukan pada bulan Juli 2008. Kameramen: Fabius Ndruru.

yw.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul lagu Fame Afo adalah satu dari 9 buah judul yang telah direkam gambar dan audionya di kompleks Museum. Perekaman dilakukan pada bulan Juli 2008. Kameramen: Fabius Ndruru.</p>
<p><object width="425" height="344"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/4K5Yw1lx7xE&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/4K5Yw1lx7xE&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"></embed></object></p>
<p>yw.</p>
<img src="http://www.museum-nias.org/?ak_action=api_record_view&id=750&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.museum-nias.org/?feed=rss2&amp;p=750</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Video Tari Perang</title>
		<link>http://www.museum-nias.org/?p=738</link>
		<comments>http://www.museum-nias.org/?p=738#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Sep 2009 01:57:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gratiano Telaumbanua</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Video]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.museum-nias.org/?p=738</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah rekaman Tari Perang yang mengambil lokasi di desa Hili&#8217;amaetaniha, yang merupakan suguhan dari masyarakat desa Hili&#8217;amaetaniha menyambut tamu Museum Pusaka Nias datang ke desa mereka.

yw.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini adalah rekaman Tari Perang yang mengambil lokasi di desa Hili&#8217;amaetaniha, yang merupakan suguhan dari masyarakat desa Hili&#8217;amaetaniha menyambut tamu Museum Pusaka Nias datang ke desa mereka.</p>
<p><object width="425" height="344"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/ccNgtc89_dI&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/ccNgtc89_dI&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"></embed></object></p>
<p>yw.</p>
<img src="http://www.museum-nias.org/?ak_action=api_record_view&id=738&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.museum-nias.org/?feed=rss2&amp;p=738</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Video Persiapan dan Penyambutan</title>
		<link>http://www.museum-nias.org/?p=731</link>
		<comments>http://www.museum-nias.org/?p=731#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 14:21:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gratiano Telaumbanua</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Video]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.museum-nias.org/?p=731</guid>
		<description><![CDATA[Ini merupakan rekaman saat Peresmian Museum Pusaka Nias. Rekaman persiapan dalam menyambut tamu yang datang ke Museum Pusaka Nias untuk meresmikannya. 

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini merupakan rekaman saat Peresmian Museum Pusaka Nias. Rekaman persiapan dalam menyambut tamu yang datang ke Museum Pusaka Nias untuk meresmikannya. </p>
<p><object width="425" height="344"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/6oc9QovpM50&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/6oc9QovpM50&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"></embed></object></p>
<img src="http://www.museum-nias.org/?ak_action=api_record_view&id=731&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.museum-nias.org/?feed=rss2&amp;p=731</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Video Lagu dan Tarian Nias</title>
		<link>http://www.museum-nias.org/?p=720</link>
		<comments>http://www.museum-nias.org/?p=720#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 02:59:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gratiano Telaumbanua</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Video]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.museum-nias.org/?p=720</guid>
		<description><![CDATA[Shooting video lagu dari desa Hili&#8217;amaetaniha yang merupakan produksi Museum Pusaka Nias yang ketiga dalam mendokumentasikan dan mempublikasi Tarian dan Hoho budaya Nias. Rekaman ini dilakukan pada tahun Juli 2008 yang pengambilan gambar dan audionya dilakukan di Kompleks Museum.
Produksi: Museum Pusaka Nias 

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Shooting video lagu dari desa Hili&#8217;amaetaniha yang merupakan produksi Museum Pusaka Nias yang ketiga dalam mendokumentasikan dan mempublikasi Tarian dan Hoho budaya Nias. Rekaman ini dilakukan pada tahun Juli 2008 yang pengambilan gambar dan audionya dilakukan di Kompleks Museum.<br />
Produksi: Museum Pusaka Nias </p>
<p><object width="425" height="344"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/48rmpieEDYU&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/48rmpieEDYU&#038;hl=en&#038;fs=1&#038;" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="425" height="344"></embed></object></p>
<img src="http://www.museum-nias.org/?ak_action=api_record_view&id=720&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.museum-nias.org/?feed=rss2&amp;p=720</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kearifan Nias</title>
		<link>http://www.museum-nias.org/?p=715</link>
		<comments>http://www.museum-nias.org/?p=715#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Aug 2009 07:17:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fabius.ndruru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.museum-nias.org/?p=715</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ahmad Yunus
Gunung Sitoli jantungnya Pulau Nias. Di sini geliat perekonomian dan
perkantoran tumbuh. Kapal-kapal perdagangan, nelayan hingga kapal Ferry yang
menghubungkan Sibolga -  Nias masuk ke sini. Kurang lebih perjalanan dari
Sibolga ke Nias sekitar 12 jam.
Ferry menjadi andalan utama Nias. Truk bermuatan naik dalam perut kapal.
Dari barang-barang sehari-hari sampai sayuran. Penumpang tidur sesak di atas
geladak kapal. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Ahmad Yunus</p>
<p>Gunung Sitoli jantungnya Pulau Nias. Di sini geliat perekonomian dan<br />
perkantoran tumbuh. Kapal-kapal perdagangan, nelayan hingga kapal Ferry yang<br />
menghubungkan Sibolga -  Nias masuk ke sini. Kurang lebih perjalanan dari<br />
Sibolga ke Nias sekitar 12 jam.</p>
<p>Ferry menjadi andalan utama Nias. Truk bermuatan naik dalam perut kapal.<br />
Dari barang-barang sehari-hari sampai sayuran. Penumpang tidur sesak di atas<br />
geladak kapal. Dari bayi hingga orangtua. Udara terasa pengap. Kamar mandi<br />
kotor sekali.</p>
<p>Kami sempat kena tipu oleh calo petugas pelabuhan. Ongkos dari Sibolga ke<br />
Gunungsitoli menjadi mahal. Kami mengeluarkan kocek empat ratus ribu lebih.<br />
Padahal seharusnya hanya sekitar tiga ratus ribuan. Ini sudah termasuk biaya<br />
untuk kendaraan sepeda motor.</p>
<p>Nias termasuk pulau yang ramai. Wisatawan asing mengenal Nias karena<br />
ombaknya. Banyak penggila surfing menghabiskan waktu liburannya bermain<br />
selancar di Pantai Sorake. Ombaknya mencapai ketinggian satu hingga dua<br />
meter. Gelombangnya panjang. Penginapan kecil menghadap laut. Pantai Sorake<br />
menyerupai sepatu kuda.</p>
<p><span id="more-715"></span>Nias kaya dengan seni dan budayanya. Salahsatu yang terkenal adalah lompat<br />
batu. Pemuda yang tinggal di Bawomataluo sanggup meloncat melewati tembok<br />
batu hingga ketinggian dua meter lebih! Otot dan tulang kakinya kuat sekali.</p>
<p>Bawomataluo termasuk desa tradisional. Sekilas mirip perkampungan Asterix<br />
dan Obelix. Banyak batu. Rumahnya terbuat dari kayu. Penyangganya dari<br />
gelondongan kayu. Orang-orang duduk di pelataran rumah. Banyak jemuran<br />
pakaian. Anak-anak kecil merengek meminta wisatawan untuk membeli<br />
barang-barang souvenir.</p>
<p>Seorang warga bercerita gempa tak menghancurkan rumah-rumah tradisional ini.<br />
Padahal penyangga rumah hanya tertumpu pada setumpukan batu saja. Rumah dan<br />
perkantoran yang terbuat dari semen rontok.</p>
<p>Kami tak melihat lagi sisa kerusakan akibat gempa tahun 2005 silam.<br />
Diperkirakan sekitar 500 orang mati. Kini, bangunan rumah, sekolah hingga<br />
gedung perkantoran sudah berdiri normal. Kondisi aspal jalan mulus. Kini,<br />
Nias juga memiliki gedung rumah sakit yang besar di Gunungsitoli.</p>
<p>Salahsatu tempat yang menarik dan jarang dikunjungi orang adalah Hilinawalo<br />
Mazingo. Tak mudah masuk ke desa ini. Jalannya kecil dan berbatu. Di tepi<br />
jalan utama tak ada informasi yang menceritakan kenapa desa ini layak<br />
dikunjungi orang.</p>
<p>Di desa ini ada satu rumah kepala suku atau raja. Nama rumah ini Omo Hada.<br />
Luas rumah ini sekitar 9 x 24 meter persegi. Ketinggian rumah mencapai 24<br />
meter. Arsitektur rumah dan desanya tak jauh berbeda seperti desa<br />
tradisional yang lainnya di Nias. Usia rumah ini diperkirakan sekitar 300<br />
tahun!</p>
<p>&#8220;Rumah ini salahsatu rumah tertua di dunia,&#8221; kata Sofyan. Ia generasi ke<br />
tujuh yang memiliki rumah ini.</p>
<p>Saya masuk dan melihat kokohnya bangunan ini. Penyangga kayu terlihat kuat.<br />
Tak ada paku secuil pun. Rumah ini tak memiliki langit-langit. Batangan kayu<br />
dan balok penyangga atap terstruktur rapi dan saling mengunci. Kami kagum<br />
melihat rumah ini.</p>
<p>Dalam ruangan tak banyak barang. Ada satu televisi, soundsystem dan beberapa<br />
gitar elektrik. Foto keluarga berjejer menempel pada dinding kayu. Kamar<br />
tidur terletak satu ruangan dengan dapur. Uniknya, ada dua buah ruangan<br />
sempit (Laki-laki dan perempuan)  yang dulu dipakai sebagai penjara. Luasnya<br />
hanya cukup untuk berdiri saja. Namun, kini tak berfungsi sebagai penjara<br />
lagi. Kini ruang kecil itu hanya digunakan untuk menyimpan perabotan dapur<br />
saja.</p>
<p>Dalam ruangan terasa teduh. Tak banyak cahaya yang masuk. Sirkulasi angin<br />
terasa sejuk. Duduk berlama-lama di sini terasa betah. Saya membayangkan<br />
bagaimana 300 tahun yang lalu ketika membangun rumah ini.  Tak ada alat ukur<br />
pasti. Dan tak ada peralatan kayu.</p>
<p>Bangunan ini termasuk salahsatu World Endangered Heritage dan telah<br />
ditetapkan oleh satu lembaga internasional, World Monuments Fund yang<br />
bermarkas di New York. Selain, Omo Huda, tempat lain yang masuk status ini<br />
adalah Tanah Lot di Bali. Satu lembaga lokal di Medan, North Sumatra<br />
Heritage membantu mengupayakan konservasi Omo Hada.</p>
<p><span style="color: #000000;">Di Gunungsitoli ada satu museum yang ciamik. Namanya, Museum Pusaka Nias.<br />
Ini tempat koleksi artefak seni dan kebudayaan Nias. Mulai dari replika<br />
rumah, patung dan ukiran, alat ritual dan perang, hingga foto-foto klasik<br />
orang-orang Nias.</span></p>
<p>Melihat museum ini seperti membaca buku. Saya terbawa berimajinasi dalam<br />
kehidupan Nias. Kehidupan Nias telah melahirkan peradabannya sendiri yang<br />
unik dan maju pada zamannya. Salahsatu buktinya adalah arsitektur rumah<br />
tradisionalnya yang menawan.</p>
<p>Museum ini rapi dan kaya dengan informasi. Ruangnya bersih. Koleksi buku<br />
perpustakaanya juga cukup lengkap. Khususnya yang berkaitan dengan<br />
penelitian arkeologi, sejarah dan antropologi Nias.</p>
<p>Saya senang melihat museum ini. Museum menjadi tempat belajar yang<br />
menyenangkan. Dan saya merasa, Indonesia tak banyak punya museum seperti<br />
ini. Di Mentawai, salahsatu pulau yang kita lewati, museumnya berantakan dan<br />
berdebu. Di Jawa, Orde Baru, bahkan membangun banyak museum sebagai alat<br />
propaganda politik yang menyesatkan. ***</p>
<p>Sumber:  http://www.zamrud-khatulistiwa.or.id</p>
<img src="http://www.museum-nias.org/?ak_action=api_record_view&id=715&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.museum-nias.org/?feed=rss2&amp;p=715</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dirgahayu R.I yang ke-64</title>
		<link>http://www.museum-nias.org/?p=700</link>
		<comments>http://www.museum-nias.org/?p=700#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Aug 2009 04:46:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gratiano Telaumbanua</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.museum-nias.org/?p=700</guid>
		<description><![CDATA[


Museum Pusaka Nias mengucapkan:
Dirgahayu R.I yang ke-64,
Sekali Merdeka tetap Merdeka.


]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="mceTemp">
<dl id="attachment_702" style="width: 490px;">
<dt><img src="../wp-content/uploads/2009/08/Bendera1.jpg" alt="Jayalah Bangsa dan Budayaku" width="480" height="490" /></dt>
<div class="mceTemp">Museum Pusaka Nias mengucapkan:</div>
<div class="mceTemp">Dirgahayu R.I yang ke-64,</div>
<div class="mceTemp">Sekali Merdeka tetap Merdeka.</div>
</dl>
</div>
<img src="http://www.museum-nias.org/?ak_action=api_record_view&id=700&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.museum-nias.org/?feed=rss2&amp;p=700</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika gembala pergi, Rusa dan Musang akan kehilangan kendali</title>
		<link>http://www.museum-nias.org/?p=679</link>
		<comments>http://www.museum-nias.org/?p=679#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jul 2009 07:11:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gratiano Telaumbanua</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.museum-nias.org/?p=679</guid>
		<description><![CDATA[Ketika hari beranjak  senja, Rusa dan Musang binatang langka peliharaan Museum Pusaka Nias mulai tak tenang. Staf menduga bahwa gembala yang mengurus selama ini sudah mohon izin pulang ke kampung untuk pertemuan doa keluarga. Untuk menggantikan tugas itu sementara dialihkan kepada karyawan yang lain.
Apa yang terjadi? pada malam hari Rusa tersebut, keluar menembus dua lapisan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-689" src="http://www.museum-nias.org/wp-content/uploads/2009/07/Sang-gembala-Museum.jpg" alt="Sang gembala Museum" width="400" height="263" />Ketika hari beranjak  senja, Rusa dan Musang binatang langka peliharaan Museum Pusaka Nias mulai tak tenang. Staf menduga bahwa gembala yang mengurus selama ini sudah mohon izin pulang ke kampung untuk pertemuan doa keluarga. Untuk menggantikan tugas itu sementara dialihkan kepada karyawan yang lain.</p>
<p>Apa yang terjadi? pada malam hari Rusa tersebut, keluar menembus dua lapisan pagar, yaitu satu lapis pagar bambu dan satu lapis pagar besi yang dilengkapi dengan kawat. Disusul juga dengan beberapa ekor Musang. Para staf dan tukang sibuk pada malam hari itu untuk menyelamatkan Rusa dan Musang yang sudah keluar. Akhirnya dengan usaha yang tak sia-sia kedua jenis binatang itu dapat diselamatkan dan dikembalikan di kandangnya masing-masing.</p>
<p>Kejadian ini sudah beberapa kali terjadi. Begitu terjadi perubahan petugas maka binatang ini tidak tenang dan seperti mau keluar dari kandangnya. Akhirnya, petugas yang mengurus binatang peliharaan Museum Pusaka Nias tersebut kembali, dan bekerja pada hari senin, 27 Juli 209 dengan perhatian sepenuhnya.</p>
<p>Staf heran ketika Bapak Ama Kristof tidak ada, maka binatang peliharaan kita di Museum Pusaka Nias tidak tenang dan mau keluar dari pagar. Muncul spontan kata mengatakan &#8220;Elungu mbiri-biri Si lo kubalo&#8221; artinya tersesatlah domba yang tidak mempunyai gembala. Ada juga berpendapat bahwa lain perhatian yang terbiasa dari pada orang yang menggantikan sementara. Tambah lagi dengan pendapat lain, binatang itu punya kebiasaan bahwa siapa yang sering memperhatikan dan memelihara mereka kepada orang itu mereka sangat jinak. Sedangkan orang lain yang baru dia kenal, seakan-akan tidak  bersahabat dan berterima seandainya manusia.</p>
<p>Penulis: Arozanolo Gulo</p>
<img src="http://www.museum-nias.org/?ak_action=api_record_view&id=679&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.museum-nias.org/?feed=rss2&amp;p=679</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peperangan Antara Niha Raya vs Niha Yöu</title>
		<link>http://www.museum-nias.org/?p=653</link>
		<comments>http://www.museum-nias.org/?p=653#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 08:20:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nataalui.duha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.museum-nias.org/?p=653</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Fogöli Harefa
Salah seorang dari putera Raja Sirao bernama Gözö Helahela Danö, diturunkan di sebelah barat Hilimaziaya yang dahulu sebelum pemekaran masuk dalam wilayah kecamatan Lahewa Kabupaten Nias. Keturunannya berkembang hingga ke Luzamanu, Afia dan Afulu. Keturunan Gözö ini disebut Mado Baeha dengan perawakan tubuh yang besar-besar dan kuat, mereka disebut Niha Yöu.
Sementara itu, terdapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Fogöli Harefa</p>
<p>Salah seorang dari putera Raja Sirao bernama Gözö Helahela Danö, diturunkan di sebelah barat Hilimaziaya yang dahulu sebelum pemekaran masuk dalam wilayah kecamatan Lahewa Kabupaten Nias. Keturunannya berkembang hingga ke Luzamanu, Afia dan Afulu. Keturunan Gözö ini disebut Mado Baeha dengan perawakan tubuh yang besar-besar dan kuat, mereka disebut Niha Yöu.</p>
<p>Sementara itu, terdapat juga kerajaan lain di sungai Idanoi kecamatan Gunung Sitoli, yaitu:</p>
<ol>
<li>Öri Talu Idanoi (mado Harefa)</li>
<li>Öri Laraga (mado Zebua).</li>
</ol>
<p>Ketika mereka melakukan Fondrakö di Talu Idanoi dan di Laraga, semua kerajaan yang berdekatan ini telah berjanji untuk saling membantu dalam segala hal terutama dalam peperangan. Mereka ini disebut Niha Raya.</p>
<p>Jumlah Niha Yöu lebih banyak dari Niha Raya. Tapi Niha Raya lebih berani, lebih cerdik dan lebih bijaksana.</p>
<p>Raja Niha Yöu yaitu Taniwaha’ambö yang berkedudukan di Helakha, sedangkan Raja Niha Raya di Talu Idanoi ialah Tumba Ana’a dan raja di Laraga yaitu Ononamölö.  Tumba Ana’a berkedudukan di Onozitoli dan Tumba Ononamölö berkedudukan di Ononamölö. Kedua kerajaan ini disebut “Si dombua ba dalu Idanoi.”</p>
<p>Tersiarnya berita bahwa tubuh Niha Yöu itu besar-besar dan kuat, maka raja-raja Niha Raya menjadi kuatir jika suatu saat kekuasaan Niha Yöu sampai ke daerah mereka.</p>
<p>Suatu hari raja Talu Nidanoi bernama Tumba Ana’a melakukan perjalanan ke wilayah kekuasaan raja Niha Yöu bernama Taniwaha’ambö. Kedatangan Tumba Ana’a bersama rombongannya disambut dengan upacara kehormatan oleh raja Niha Yöu.</p>
<p>Selama Tumba’a Ana’a berada di situ, ia sempat melihat seorang gadis yang berparas cantik sekali bernama Silewe Kana’a. Ia jatuh cinta pada gadis itu. Gadis itu adalah putri dari raja Taniwaha’ambö.</p>
<p>Karena itu ia mengirim utusan kepada Taniwaha’ambö untuk menyampaikan bahwa ia ingin meminang dan memperisterikan Silewe Kana’a.</p>
<p>Taniwaha’ambö menerima lamaran raja Tumba Ana’a sebagai menantunya. Singkat cerita, Tumba Ana’a membayar semua kewajiban adat “böwö” yang dipersyaratkan kepadanya.</p>
<p>Tujuh hari setelah pesta perkawinan, maka Tumba Ana’a melakukan acara “famuli nukha.” Pada saat itu pihak keluarga raja Tumba Ana’a dan raja Tuniwaha’ambö saling memberi “böwö” dalam bentuk ayam, babi hidup dll. Namun salah seekor dari babi yang diberikan oleh Taniwaha’ambö kepada keluarga menantunya adalah seokor babi jantan “la’imba.”</p>
<p>Karena begitu banyaknya hewan pemberian dari keluarga orangtua Silewe Kana’a, maka Tumba Ana’a meminta agar ia tidak membawa ke Talu Idanoi babi jantan “la’imba” pemberian mertuanya, akan tetapi tinggal dan dipelihara saja dulu oleh mertuanya dan kelak akan dimbilnya. Ia sendiri yang meminta demikian dan mertuanya pun mengabulkan permintaan itu.</p>
<p>Akan tetapi sebagaimana lazimnya jika babi jantan dilepas begitu saja, maka babi itu akan menjadi sangat liar dan galak. Begitulah babi tersebut sungguh liar, agresif mengejar dan menggigit orang serta babi-babi lain. Sehingga Anak-anak di kampung itu menjadi tidak aman. Babi Tumba Ana’a pemberian mertuanya itu telah membuat resah seisi kampung.</p>
<p>Karena itu, raja Taniwaha’ambö mencari akal agar babi itu jinak dan tidak liar lagi. Lalu ia menyuruh orang untuk mengebirinya “lakhai.” Dan hasilnya, babi itu tidak lagi agresif dan akan tetapi menjadi jinak.</p>
<p>Suatu saat, sekitar tiga bulan setelah acara “mamuli nukha,”  Silewe Kana’a merasa rindu kampung halamannya. Lalu ia pergi ke sana diantar oleh suaminya Raja Tumba Ana’a dan sejumlah pengiring lainnya.</p>
<p>Kedatangan mereka disambut oleh Raja Taniwaha’ambö. Lalu, ia juga menjelaskan bahwa babi jantan yang dulu mereka tinggalkan telah meresahkan warga kampung. Dan untuk mencegah keliaran babi, ia telah menyuruh orang untuk mengebirinya.  Dan kemudian babi itu tidak lagi menggigit orang dan bahkan sudah menjadi besar.</p>
<p>Raja Tumba Ana’a tidak bisa menerima penjelasan mertuanya. Ia langsung naik pitam. Ia bahkan salah pengertian atas tindakan itu. Ia mengibaratkan babi jantan itu sebagai simbol kerajaan Niha Raya yang sudah dikebiri oleh raja Niha Yöu.</p>
<p>Raja Taniwaha’ambö, mertuanya mencoba menjelaska sejelas dengan tenang dan sabar bahwa ia sama sekali tidak maksud demikian. Tetapi Tumba Ana’a tetap ngotot dan menyimpan dendam kepada mertuanya.</p>
<p>Tumba Ana’a pulang ke Talu Idanoi. Di sana ia menyebarkan berita dan memprovokasi warganya serta raja-raja lain dengan isu babi jantan tadi yang sudah dikebiri. Ia mengatakan bahwa Raja Taniwaha’ambö telah mengebiri Niha Raya. Niha Raya yang disimbolkannya dengan babi itu telah dikebiri agar tidak melawan lagi dengan kata lain menurut saja. Bahkan ia menambah kata-kata yang lebih tajam agar raja Tumba Ononamölö menjadi marah dan emosi. Namun terdapat juga di antara para tokoh yang hadir di situ, mengatakan bahwa tidak cukup alasan untuk menyerang kerajaan Niha Yöu apa lagi dengan mertuanya sendiri.</p>
<p>Masukan dari para tokoh itu tidak mengurungkan niat raja Tumba Ana’a. Malah ia semakin marah dan berusaha mencari alasan untuk berperang, sehingga ia mengatakan “Jika demikian aku pergi sekali lagi ke Niha Yöu mencari sesuatu sebab yang lain, agar peperangan terjadi.”</p>
<p>Karena itu, Raja Tumba Ana’a pergi ke kampung mertuanya. Pada saat sedang berada di sana ia nongkrong di tempat pandai besi ‘ambukha.’  Di tempat itu mereka membuat berbagai jenis senjata berkualitas sangat bagus seperti pedang, keris dan tombak dll. Seperti biasanya di situ ada sejumlah laki-laki termasuk Raja Taniwaha’ambö yang sedang mengamati karya warganya. Mereka senang melihat kedatangan menantu Raja Niha Yöu itu lalu mereka mengajaknya ngombrol dan bergurau.  Mereka duga bahwa menantu raja itu ramah.  Lalu salah seroang dari mereka yang hadir disitu meminta keris yang telah terselip di pinggang Tumba Ana’a dengan maksud untuk memperhatikannya. Tetapi keris buatan Niha Raya itu tipis dan kecil serta buatannya tidak kuat. Sedangkan keris buatan Niha Yöu besar dan tebal, bagus bentuknya serta dari bahan yang kuat. Lalu, para pandai besi tadi mengajak Raja Tumba Ana’a untuk bertukar  keris dengan cara bergurau.</p>
<p>Karena Tumba Ana’a semata-mata hendak mencari pokok perselisihan, maka semua perkataan dan gurauan itu disalah artikannya. Lalu, katanya: “Keris saya ini, walaupun demikian keadaannya, tak maulah saya rasanaya bertukar walaupun dengan sepuluh keris buatan lain. Keris buatan Niha Raya  selalu bertuah dan keramat.”</p>
<p>Ia menyampaikan hal itu dengan wajah serius, tepi para tukang besi itu hanya menanggapinya dengan bergurau, sehingga ada yang mengatakan: “jika Raja suka dan berani marilah kita mengadu ketua mata keris ini, mana yang sumbing matanya atau patah, itulah yang kalah.”</p>
<p>Perkataan itu di jawab oleh raja Tumba A’na’a, katanya: sekarang saya tidak mau mengadu keris pada saat itu, karana ia belum meminta izin dari rakyatnya. Ia mengatakan jika permintaan sungguh-sungguh agar diberi waktu dan ditunda dulu dan dilakukan pada saat ia datang sekali lagi di tempat itu. Para tukang itu menyetujui permintaan itu raja Tumba Ana’a sambil bercanda.</p>
<p>Semua hal itu menambah dendam kesumat dalam hati raja Tumba Ana’a. Oleh karena telah terlanjur berjanji untuk mengadu keris, dan Raja Tumba Ana’a menduga bahwa akan memenangkan pertandingan itu, lalu ia pulang ke Talu Idanoi.</p>
<p>Setibanya di sana ia menghadap Raja Tumba Ononamölö di Laraga dan menyampaikan segala rencana. Setalah mendengar penjelasan, maka Raja Tumba Ononamölö mendapat satu akal, lalu ia mengatkan: “Apabila kekuatan yang diadu, sudaha barang tentu keris kita kalah. Akan tetapi dalam hal ini, baik dengan akal juga. Tentang mengadu keris macam itu, salah satu keris harus dipotong, sedangakan yang satu ditahan dan letakkan di atas landasannya. Bila terjadi demikian harus keris kita ini dengan tipu muslihat diputar balikan pada landasannya hingga tidak terlihat oleh orang lain karena kecepatannya.  Jadi ada harapan keris musuh rusak, karena bila mengenai bagian belakang keris ini, maka sumbing atau patahlah matanya.”</p>
<p>Raja Tumba Ana’a menerima masukan dari Raja Tumaba Ononamölö. Lalu pergi ke wilayah Niha Yöu untuk  menetapkan waktu pertandingan mengadu keris.</p>
<p>Setelah tiba waktu yang telah disepakati, maka kedua belah pihak berkumpul di halaman disaksikan oleh banyak orang. Dan pertandingan adu keris pun di mulai.</p>
<p>Raja Tumba Ana’a melakukan segalah petunjuk tipu muslihat yang telah disampaikan oleh Raja Tumba Ononamölö kepadanya. Karena itu dengan sangat mengejutkan, tiba-tiba daun keris buatan Niha Yöu patah, sedangkan keris Niha Raya tetap utuh tanpa cacat sedikitpun. Niha Yöu menerima kekalahan itu dengan lapang dada, sebab walaupun mereka kalah, kemenangan jatuh ke tangan raja mereka juga, apalagi menurut mereka pertandingan semacam itu tidak begitu berarti.</p>
<p>Raja Tumba Ana’a menjadikan kemenangan ini sebagai kemegahannya, karena itu ia mengatakan “Ezai fogilo, wombali.”  Artinya “sebagai pemutar pembalikan,” Lalu ia meneruskan kata-katanya lagi “Seperti keadaan keris inilah keadaan Niha Yöu jika berlawanan dengan Niha Raya.”</p>
<p>Perkataan provokasi itu tidak diperdulikan oleh orang-orang yang hadir di situ, terlebih Raja Taniwaha’ambö, sebab menurut dia, ucapan itu hanya sekedar kata-kata yang tidak mengandung arti jahat.</p>
<p>Setelah itu, Raja Tumba Ana’a kembali ke kampungya di Talu Idanoi. Segala peristiwa tentang pertandingan adu keris itu diceritakannya kepada Raja Tumba Ononamölö yang bijaksana.</p>
<p>Tidak berapa lama kemudian kedua raja di Talu Idanoi itu bersepakat untuk menghimpun rakyat dan mengumumkan perang dengan Niha Yöu. Raja Tumba Ana’a memperovokasi rakyat dengan berpura-pura dihina oleh mertuanya dan menjelek-jelekannya di hadapan rakyatnya jika ia berkunjung kesana. Karena itu, ia merasa terhina dan wajahnya tercoreng serta menanggung malu. Ia tidak tahu bagaimana cara membela diri. Rakyat pun percaya begitu saja.</p>
<p>Karena itu raktyat bersama seluruh pemebesar khususnya Raja Tumba Ononamölö di Laraga terpaksa bersatu membulatkan tekat untuk memerangi Niha Yöu. Ia percaya bahwa Raja Tumba Ana’a tidak mungkin mengkhianati mertuanya, karena itu ia yakin bahwa segalah perkataan Raja Tumba Ana’a adalah benar.</p>
<p>Untuk mempersiapkan peperangan dengan dengan Niha Yöu, Raja Tumba Ana’a dan Raja  Tumba Ononamölö mengutus seseorang berkeliling untuk memberitahukan kepada segenap raja-raja dan seluruh rakyat yang ada wilayah itu agar berkumpul pada suatu tempat yaitu di “Hiligolu,”  sebuah gunung yang terletak di dekat Ombölata. Di sebelah barat tempat itu adalah wilaya kekuasaan Mado Harefa hingga sekarang ini. Gunung itu dapat dilihat dari kapung Faekhu, sekitar 10-11 km dari Gunung Sitoli.</p>
<p>Konon certianya, dengan kesaktiannya, Raja Tumba Ana’a menghentakkan kakinya di atas tanah di puncak gunung itu, dan pada saat ia mengangkat kakinya, keluarlah air dari dalam tanah. Itulah mata air di atas bukit Hiligolu yang ada hingga sekarang ini.</p>
<p>Di tempat itulah dibiputuskan siapa yang memimpin peperangan melawan Niha Yöu yaitu: Raja Tumba Ana’a dan Tumba Ononamölö.</p>
<p>Demikian juga perbelanjaan (logistik) selama peperangan, yaitu seuntai kalung emas ‘nifatali’ seberat 120 pao diberi oleh Tumba Ana’a, karena dialah yang menyulut peperangan “Börö horö.” Selain itu, keperluan perang dibagi tiga yaitu: Sepertiga ditangung oleh Tumba Ana’a, Sepertiga dari Tumba Ononamölö dan yang sepertiga lagi ditanggung oleh raja-raja yang lain yang telah berjanji pada saat melakukan perumusan dan pembaharuan hukum “Modrakö.” Peraturan dipakai sebagai ketentuan dalam pembagian kewajiban dan tanggungjawab untuk melawan musuh di daerah Niha Raya.</p>
<p>Setelah disepakati, maka diutuslah beberapa orang kepada Raja Taniwaha’ambö untuk mengumumkan perang.</p>
<p>Raja Taniwaha’ambö, para pembesar dan rakyatnya sangat terkejut mendengar berita dari utusan itu serta tindakan Tumba Ana’a yang sangat menaruh dendam kepada Niha Yöu yang hanya dipicu oleh hal-hal kecil. Mereka mingira segala kejadian itu hanya sekedar gurauan dan tak ada maksud jahat di balik itu.</p>
<p>Seketika itu pulalah, Raja Taniwaha’ambö sadar akan segala tingkah laku menantunya yang aneh selama ini yang hanya semata-mata mencari bibit permasalahan. Karena itu, Raja Taniwaha’ambö sangat murka sehingga ia mengerahkan seluruh hamba dan rakyatnya untuk berperang melawan Niha Raya.</p>
<p>Ia memesankan kepada para utusan itu bahwa Niha Yöu sangat siap menghadapi serangan serta memusnahkan Niha Raya di bawah komando Tumba Ana’a yang seyogianya tidak patut dendam kepada mertuanya.</p>
<p>Mendengar pesanan itu, Raja Tumba Ana’a bertambah berang.  Seluruh rakyat Niha Yöu berikrar untuk membela rajanya yang dipermalukan oleh Tumba Ana’a. Dan yang memimpin peperangan dari Niha Yöu adalah Raja Taniwaha’ambö.</p>
<p>Maka terjadilah peperangan antara Niha Raya melawan Niha Yöu di Helakha, wilayah kekuasaan Niha Yöu.</p>
<p>Di lokasi peperangan itu, ada sebatang pohon beringin “Awöni” yang telah tumbang dan melintang. Pohon itu telah menjadi pembatas wilayah antar Niha Raya dan Niha Yöu. Pohon tersebut sangat besar dan panjang sekali sehingga kita tidak bisa melihat orang yang ada di sebelah.</p>
<p>Sebelah menyebelah dari pohon itu, kedua kubu kerajaan yang sedang berperang saling menunggu dan memprovokasi lawannya untuk menyerang. Karena postu tubuh Niha Raya tidak begitu besar maka mereka tidak bisa melompati dan melewati pohon tersebut untuk menyerang lawan. Karena itu mereka mencari akal untuk mengalahkan Niha Yöu yang memiliki postur tubuh besar dan tinggi-tinggi serta gagah berani yang mau menyerang. Mereka memasang perangkap “saiwa” dan ranjau “Bölödi.” Niha Raya bertahan saja sambil memancing Niha Yöu supaya untuk menyerang mereka.</p>
<p>Mendengar seruan provokasi dari Niha Raya, maka pasukan Niha Yöu yang gagah berani itu, langsung melompati batang pohon yang melintang  untuk menyerang. Mereka dengan gampang melewati batang pohon itu dengan melompat.Tapi, sayang, setiap orang yang lewat, langsung masuk perangkap sebelum menginjakkan kaki ke tanah. Dan setelah itu dihantam oleh ranjau “bölödi,” sehingga mereka dengan mudah dibunuh oleh pasukan Niha Raya yang sedang menanti musuh.</p>
<p>Lebih separoh dari pasukan Niha Yöu sudah melewati batang pohon itu. Mereka tidak mengetahui bahwa pasukan mereka telah mati dibunuh oleh Niha Raya. Lalu salah seorang dari pasukan Niha Yöu yang postur tubuhnya kecil dan gemuk, melompati batang pohon menyusul kawan-kawannya untuk melakukan penyerangan. Tapi karena gemuk dan tidak kuat ia sangkut di atas batang pohon itu. Ia tidak bisa lewat. Ia hanya sampai di atas batang pohon dan berdiri. Lalu ia melihat  di sebelah, ternyata semua kawannya mati terbunuh. Tak ada satu pun yang masih hidup, termasuk raja dan pemimpin pasukan mereka Raja Tanihawaha’ambö.</p>
<p>Melihat kejadian itu, ia segera mundur dan dan memberitahukan kepada seluruh pasukannya yang masih tersisa. Lalu tanpa, menunggu lagi, seluruh anggota pasukan Niha Yöu takut dan langsung melarikan diri.</p>
<p>Pasukan Niha Raya mengejar musuh, menyerang dan membakar perkapungan Niha Yöu sehingga banyak perkampungan yang hancur. Akibat peperangan ini, jumlah penduduk Niha Yöu semakin berkurang jumlahnya. Raja Taniwaha’ambö ditangkap oleh Niha Raya dan lalu membunuhnya.</p>
<p>Oleh karena itu pula, sebagian tanah dan wilayah Niha Yöu diduduki oleh Niha Raya. Mado Harefa menduduki wilayah Luzamanu dan Mado Zebua (keturunan Hinomanofu) mengusai wilayah Sowu hingga Afia. Sejak itu, Niha Raya berangsur-angsur pindah ke tanah Niha Yöu. Itulah sebab di bagian utara pulau Nias kita banyak menjumpai suku dan marga yang bukan keturunan Gözö Hela-hela Danö.</p>
<p>Sumber asli: Faogöli Harefa, <strong>Hikajat dan tjeritera Bangsa serta Adat Nias</strong>, Poelaoe Tello, Rapatfonds Residentie Tapanoeli, 1939, hal 104 – 113.</p>
<p>Ditulis kembali oleh: Nata’alui Duha</p>
<img src="http://www.museum-nias.org/?ak_action=api_record_view&id=653&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.museum-nias.org/?feed=rss2&amp;p=653</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gowe Sibatua &#8220;Tumba Ana&#8217;a&#8221;- Milik Siapa?</title>
		<link>http://www.museum-nias.org/?p=647</link>
		<comments>http://www.museum-nias.org/?p=647#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 08:00:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nataalui.duha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.museum-nias.org/?p=647</guid>
		<description><![CDATA[Sejak akhir bulan April yang lalu berita sebuah patung batu yang menyerupai manusia ‘Gowe Sibatua’ sangat heboh. Pasalnya patung dimaksud yang terletak persis di pinggir jalan raya km 11 desa Ononamölö-Gunungsitoli Selatan dipercayai memiliki kesaktian.
Menurut warga setempat di sekitar lokasi, cerita sakti dibalik batu itu telah memikat oknum yang belum diketahui identitasnya  untuk mencuri batu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-656" title="Gara Zibatua.2" src="http://www.museum-nias.org/wp-content/uploads/2009/07/Gara-Zibatua.2.jpg" alt="Gara Zibatua.2" width="144" height="192" />Sejak akhir bulan April yang lalu berita sebuah patung batu yang menyerupai manusia ‘Gowe Sibatua’ sangat heboh. Pasalnya patung dimaksud yang terletak persis di pinggir jalan raya km 11 desa Ononamölö-Gunungsitoli Selatan dipercayai memiliki kesaktian.</p>
<p>Menurut warga setempat di sekitar lokasi, cerita sakti dibalik batu itu telah memikat oknum yang belum diketahui identitasnya  untuk mencuri batu itu. Para pencuri sudah berusaha membawa dan memindahkan batu dari lokasi ke pinggir jalan untuk kemudian dibawa dan dijual. Untungnya, pada saat para pencuri beraksi hujan turun sangat deras, sehingga patung  yang sangat berat itu tidak berhasil diangkat, lalu dilempar dan dibiarkan saja di tengah semak-semak.</p>
<p><span id="more-647"></span><img class="alignleft size-full wp-image-657" title="Situas Tumba Ana'a di km 11 Ononamölö" src="http://www.museum-nias.org/wp-content/uploads/2009/07/Situas-Tumba-Anaa.jpg" alt="Situas Tumba Ana'a di km 11 Ononamölö" width="144" height="108" />Menurut pemantauan staf Museum Pusaka Nias Arozonolo Gulö, jumlah warga yang sudah berkunjung di lokasi itu sudah mencapai ratusan orang.</p>
<p>Walaupun beritanya sudah heboh dan batu itu sudah ditetapkan sebagai situs, ternyata belum ada upaya para pemilik atau ahli waris untuk menyelamatkan patung bersejarah itu. Bahkan ada kesan dibiarkan. Padahal dalam UU RI No. 5 Tahun 1992 tentang “Benda Cagar Budaya” ditegaskan bahwa upaya pemindahan dan pencurian benda itu adalah perbuatan melawan hukum dan dapat pidana penjara 10 tahun.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-659" title="Ina Yama Ndraha, keluarga yang mengaku sebagai pemilik situs" src="http://www.museum-nias.org/wp-content/uploads/2009/07/I.-Yama-Ndraha.21.jpg" alt="Ina Yama Ndraha, keluarga yang mengaku sebagai pemilik situs" width="144" height="108" />Apakah benda cagar budaya itu akan selamat? Hingga detik ini patung tersebut masih tersimpan di rumah Ina Yama Ndraha. Ina Yama Ndraha mengaku, merekalah pemilik benda cagar budaya itu yang telah dilindungi oleh undang-undang. Benarkah mereka pemiliknya? Dan Mengapa tak ada upaya penyelamatan dan pemeliharaan? Mengapa Dinas Pariwisata dan Kebudayaan serta Polres Nias hanya diam saja? Kita berharap agar para ahli waris mengembalikan batu tsb di lokasi semula dan melindunginya. Kalau sulit, maka seharusnya para ahli waris menitipkannya di museum sebagaimana diamanatkan dalam undang-undang.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-661" title="Arozanolo Gulö.1" src="http://www.museum-nias.org/wp-content/uploads/2009/07/Arozanolo-Gulö.1.jpg" alt="Arozanolo Gulö.1" width="144" height="108" />Lokasi benda bersejarah tersebut telah ditetapkal sebagai “Situs Tumba Ana’a.” Agar kita dapat mengetahui secuil dari sejarah situs itu serta siapa pemilik sebenarnya, silahkan baca tulisan Fogöli Harefa dengan judul “<strong>Peperangan Niha Raya vs Niha Yöu</strong>” yang dimuat kembali pada website ini.</p>
<img src="http://www.museum-nias.org/?ak_action=api_record_view&id=647&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.museum-nias.org/?feed=rss2&amp;p=647</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mempercatik Wajah Website MPN</title>
		<link>http://www.museum-nias.org/?p=564</link>
		<comments>http://www.museum-nias.org/?p=564#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Jun 2009 07:27:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nataalui.duha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.museum-nias.org/?p=564</guid>
		<description><![CDATA[Mengingat banyaknya pengunjung website ini, maka pengelola mencoba melalukan beberapa usaha kecil agar wajahnya tidak membosankan. Karena itu kami mencoba merias wajah ini secara perlahan-lahan agar wajah yang sesungguhnya bisa kelihatan.
Harapan kami bahwa wajah yang lebih original ini berkenan di hati pengunjung sehingga dapat mencintai museum ini.
Saohagölö &#8211; Terima kasih &#8211; Thank you.  Ya&#8217;ahowu fefu!
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #000000;">Mengingat banyaknya pengunjung website ini, maka pengelola mencoba melalukan beberapa usaha kecil agar wajahnya tidak membosankan. Karena itu kami mencoba merias wajah ini secara perlahan-lahan agar wajah yang sesungguhnya bisa kelihatan.<br />
Harapan kami bahwa wajah yang lebih original ini berkenan di hati pengunjung sehingga dapat mencintai museum ini.</span></p>
<p><span style="color: #ff9900;"><strong>Saohagölö &#8211; Terima kasih &#8211; Thank you.  Ya&#8217;ahowu fefu!</strong></span></p>
<img src="http://www.museum-nias.org/?ak_action=api_record_view&id=564&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.museum-nias.org/?feed=rss2&amp;p=564</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buku Baru: TUTURAN TIGA SOSOK NIAS</title>
		<link>http://www.museum-nias.org/?p=551</link>
		<comments>http://www.museum-nias.org/?p=551#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Apr 2009 09:16:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nataalui.duha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.museum-nias.org/?p=551</guid>
		<description><![CDATA[

Tebal : 185 + Cover + Daftar Isi + Kata Pengantar
Cetakan Pertama, Agustus 2008; ISBN 978-979-95749-9-2
Penerbit Yayasan Pusaka Nias
PENULIS
Bab I : Mangaraja Famahela Hia, Kepala Negeri Idanö Mola
(Arsip KITLV Leiden) – “Pustaka Negeri Idanö Mola.”
Bab II : Pendeta Alui Maru’ao – “Asal mula manusia serta tanah dan
Keturunan manusia yang bermukim di Hinako.”
Bab III : M.I. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-full wp-image-555 alignleft" style="margin-left: 10px; margin-right: 10px;" title="buku-baru11" src="http://www.museum-nias.org/wp-content/uploads/2009/04/buku-baru11.jpg" alt="buku-baru11" width="134" height="176" /></p>
<p style="text-align: center;">
<p>Tebal : 185 + Cover + Daftar Isi + Kata Pengantar<br />
Cetakan Pertama, Agustus 2008; ISBN 978-979-95749-9-2</p>
<p>Penerbit Yayasan Pusaka Nias</p>
<p>PENULIS<br />
Bab I : Mangaraja Famahela Hia, Kepala Negeri Idanö Mola<br />
(Arsip KITLV Leiden) – “Pustaka Negeri Idanö Mola.”<br />
Bab II : Pendeta Alui Maru’ao – “Asal mula manusia serta tanah dan<br />
Keturunan manusia yang bermukim di Hinako.”<br />
Bab III : M.I. Polem, D. Polem dan A.H. Polem –<br />
“Sejarah Kedatangan Teuku Polem di Gunung Sitoli, Pulau Nias”<br />
Editor : P. Johannes M. Hammerle, OFMCap.<br />
Harga : Rp. 45.000,- di luar ongkos kirim</p>
<p>Yang berminat, hubungi : Saudara Idaman Harefa, SE.<br />
Hp : 081397764910; Email: <a href="mailto:idamanharefa@yahoo.com">idamanharefa@yahoo.com</a></p>
<p><strong>Kata Pengantar dari Buku Baru</strong></p>
<p>Three in one, tiga bab dalam satu buku ini. Tiga bab yang tidak ada kaitannya satu sama lain. Namun semuanya menceritakan kepada kita berita yang sangat menarik tentang pulau Nias serta para penduduknya.<span id="more-551"></span></p>
<p>Bab I<br />
Dalam bab I Mangaraja Famahela Hia, Kepala Negeri Idanö Mola, menyampaikan kepada kita warisan yang sangat berharga, yakni Pustaka Negeri Idanö Mola. Cerita begitu banyak, sehingga meliputi 89 halaman. Itu sebabnya urutannya menjadi nomor satu dalam buku ini.<br />
Mendekati 100 tahun yang silam seorang pegawai Hindia Belanda telah meminta kepada kepala negeri Idanö Mola untuk mencatat hukum adat serta segala tradisi lisan di wilayahnya. Rupanya pekerjaan itu makan waktu lama. Mangaraja Famahela berkata: „Sejak dari tahun 1910 sampai tahun 1938 saya telah berdaya upaya menyelidiki kepada orang-orang tua.” Sebelum era Hindia Belanda berakhir, hasil pekerjaan itu sudah dikirim ke negeri Belanda. Di sana disimpan dalam Koeniglike Institut vor Taal, Land- en Volkenkunde (KITLV) di kota Leiden. Selesailah sudah. Sekitar 35 tahun sesudahnya, Prof. Alain M. Viaro dari Geneva, Swiss, mengunjungi Institut itu dengan tujuan mengambil fotokopi-fotokopi semua tulisan yang berbicara tentang Nias. Sekitar 20 tahun sesudahnya, sewaktu saya berkunjung di Geneva, Viaro menyerahkan beberapa berkas fotokopi itu kepada saya termasuk tulisan dari Mangaraja Famahela dan penelitian tentang awal mula Gereja Fa’awösa di Nias, yang ditulis dalam bahasa Belanda. Berkas terakhir ini tentang Gereja Fa’awösa sudah kami menterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan menerbitkannya pada tahun 2003. Kini sudah tiba waktunya untuk memberi giliran kepada Mangaraja Famahela. Selamat menikmati tulisannya yang berharga itu yang telah dia selesaikan 70 tahun yang lalu.</p>
<p>Bab II<br />
Dalam bab II kita pindah dari Idanö Mola di sebelah Timur pulau Nias ke ujung Barat pulau tercinta ini. Bersama dengan Pendeta Alui Maru Ao kita hendak menyelusuri riwayat suku Maru di kepulauan Hinako.<br />
Tak terduga, tradisi lisan dari Hinako yang dianggap hilang, kini sudah ditemukan kembali. Tradisi lisan seharusnya dituturkan. Tetapi yang menyangkut peristiwa ini, ternyata bahwa tradisi lisan sangat membutuhkan tulisan, supaya tidak hilang lenyap. Kita harus berterima kasih kepada alm. Pendeta Alui Maru’ao yang sudah menaruh perhatian pada tradisi lisan di kepulauan Hinako. Beliau telah menulisnya dan mewariskannya kepada putrinya, ibu Suasani Maru’ao. Ibu itu telah menyimpan dengan baik tulisan ayahnya dan pada suatu ketika menyerahkannya kepada putranya Erastus Bu’ulölö.<br />
Akhirnya Erastus Bu’ulölö, cucu dari Pendeta Alui Maru’ao, telah menulis tradisi lisan itu dengan rapi dalam komputer dan melalui email mengirimnya ke Museum Pusaka Nias.<br />
Tak peduli, entah itu tulisan tangan di atas kertas atau tulisan elektronis dan kiriman via email, dengan nekad kita menyebutnya TRADISI LISAN. Dan mengapa tradisi lisan ini tidak hilang? Karena mereka ini sungguh pemerhati. Mereka sungguh telah meneruskan hikayat dari kepulauan Hinako dan dari suku-suku Maru itu. Kata penerusan berasal dari kata latin traditio, dalam bahasa Indonesia tradisi. Kakek Alui Maru’ao telah meneruskannya kepada putrinya Suasani Maru’ao. Dan ibu itu telah meneruskannya kepada putranya Erastus Bu’ulölö, cucu dari sang pendeta itu. Suatu contoh yang baik, bagaimana terjadi tradisi lewat tiga generasi itu, sehingga kita semua dapat menikmatinya sekarang.<br />
Riwayat itu meliputi sekitar 50 halaman. Maka disini diberi urutan nomor dua. Dalam buku Asal Usul Masyarakat Nias1 terdapat uraian singkat sebanyak 11 halaman tentang suku Maru itu. Dengan membaca uraian singkat itu, tergeraklah hati Erastus Bu’ulölö, sehingga dia mengirim kepada kita warisan kakeknya itu: „Asal mula manusia serta tanah dan keturunan manusia yang bermukim di Hinako.” Terima kasih Erastus beserta ibu dan kakek Alui Maru Ao atas sumbangan yang berharga itu. Siapa tidak sedih membaca sejarah marga-marga Maru di Hinako itu?</p>
<p>Bab III<br />
Dari kepulauan Hinako di pantai Barat pulau Nias, kita sekarang kembali ke pantai Timur untuk mendengar: „Sejarah/Riwayat Kedatangan Teuku Polem di Gunung Sitoli, Pulau Nias.” Jangan tanya lagi, mengapa cerita Polem ini diberi urutan nomor tiga. Tak ada alasan lain, hanya karena bab ini adalah bab yang terkecil yang meliputi 20 halaman saja. Dalam buku Asal Usul Masyarakat Nias, secara singkat sudah diuraikan tentang kedatangan Polem ke Nias. Kini tulisan mantan kepala desa Mudik, Mohd. Idlin. Polem secara lebih terperinci menceritakan kepada kita kedatangan Polem ke Nias menjelang 400 tahun yang lalu serta sejarah suku Polem di pulau Nias ini.<br />
Akhir Kata<br />
Menurut hemat kami, buku ini merupakan suatu dokumentasi resmi. Hal ini tidak berarti, bahwa kita langsung harus membenarkan atau menerima secara mutlak seluruh isi buku ini. Tidak. Tetapi kita boleh menerima isi buku ini sebagai cerita otentik. Cerita setiap bab buku ini disampaikan kepada kita oleh seorang nara sumber dari daerah atau suku itu sendiri.<br />
Buku ini kami baktikan pertama-tama kepada masyarakat Nias sendiri dimanapun mereka berada, seterusnya kepada setiap peminat budaya Nias yang hendak berkunjung ke Nias melalui bacaan buku ini. Semoga buku ini dapat memperkaya pengetahuan kita dan memberi inspirasi dan dorongan kepada kita untuk membangun masyarakat Nias. Pada zaman kini pemekaran desa, pemekaran kecamatan dan kabupaten hangat dibicarakan. Moga-moga dalam proses pemekaran ini persatuan masyarakat Nias tidak ketinggalan. <span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Bitstream Vera Serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: MS; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-no-proof: yes;" lang="MS">Semoga kita sebagai <em>talifusö, makhelo</em> (saudara) dapat menjalin persaudaraan khas Nias dan mewudjudkan Identitas Nias dalam keanekaragaman sejarah dan budaya kita.<span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Bitstream Vera Serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman'; mso-bidi-font-family: 'Times New Roman'; mso-ansi-language: MS; mso-fareast-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-no-proof: yes;" lang="MS">Semoga kita sebagai <em>talifusö, makhelo</em> (saudara) dapat menjalin persaudaraan khas Nias dan mewudjudkan Identitas Nias dalam keanekaragaman sejarah dan budaya kita.</span></span></p>
<img src="http://www.museum-nias.org/?ak_action=api_record_view&id=551&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.museum-nias.org/?feed=rss2&amp;p=551</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Newsletter April 09</title>
		<link>http://www.museum-nias.org/?p=765</link>
		<comments>http://www.museum-nias.org/?p=765#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Apr 2009 15:21:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>info</dc:creator>
				<category><![CDATA[Deutsch]]></category>
		<category><![CDATA[Newsletter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.museum-nias.org/?p=765</guid>
		<description><![CDATA[Auch im Jahr 2009 sind bereits einige erfreuliche Ereignisse geschehen. Gerne berichten wir Ihnen darüber und wünschen schöne Ostertage!
Celebration of Humanity
Am 13.-14. Februar wurden die Abschlussfeierlichkeiten der staatlichen Wiederaufbaukommisioon Aceh-Nias (BRR) in Jakarta unter dem Motto Celebration of Humanity gefeiert. Die Feier wurde von Präsident Susilo Bambang Yudoyono eröffnet. Gepriesen wurde die vierjährige internationale Zusammenarbeit [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Auch im Jahr 2009 sind bereits einige erfreuliche Ereignisse geschehen. Gerne berichten wir Ihnen darüber und wünschen schöne Ostertage!</p>
<p><strong>Celebration of Humanity</strong><br />
Am 13.-14. Februar wurden die Abschlussfeierlichkeiten der staatlichen Wiederaufbaukommisioon Aceh-Nias (BRR) in Jakarta unter dem Motto Celebration of Humanity gefeiert. Die Feier wurde von Präsident Susilo Bambang Yudoyono eröffnet. Gepriesen wurde die vierjährige internationale Zusammenarbeit nach Tsunami und Erdbeben.</p>
<p><a href="http://www.museum-nias.org/files/Newsletter%20April%202009%20SMALL.pdf">Weiter lesen >></a></p>
<img src="http://www.museum-nias.org/?ak_action=api_record_view&id=765&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.museum-nias.org/?feed=rss2&amp;p=765</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konservasi Situs Olayama-Bitaha, Lölöwa&#8217;u</title>
		<link>http://www.museum-nias.org/?p=535</link>
		<comments>http://www.museum-nias.org/?p=535#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Apr 2009 09:17:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nataalui.duha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.museum-nias.org/?p=535</guid>
		<description><![CDATA[
Situs Batu Megalith Olayama-Bitaha bersama rumah adat model Lölöwa&#8217;u yang didirikan oleh Museum Pusaka Nias bekerjasama dengan Caritas Italiana

Setelah situs megalit yang sangat terkenal di desa Olayama, dusun Bitaha,kecamatan Lölöwa’u, Kabupaten Nias Selatan didirikan kembali dan diperbaiki oleh Museum Pusaka Nias bekerjasa dengan masyarakat keturunan Halawa pada bulan November 2007 yang lalu, situs batu-batu megalith [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="Text" style="margin: 0cm 73.7pt 0pt 0cm;"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Bitstream Vera Serif&quot;; mso-bidi-font-size: 12.0pt;" lang="DE"><img class="size-full wp-image-538 alignleft" style="margin-left: 10px; margin-right: 10px;" title="dsc01091" src="http://www.museum-nias.org/wp-content/uploads/2009/04/dsc01091.jpg" alt="dsc01091" width="194" height="146" /></span></p>
<p class="Text" style="margin: 0cm 73.7pt 0pt 0cm;"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Bitstream Vera Serif&quot;; mso-bidi-font-size: 12.0pt;" lang="DE">Situs Batu Megalith Olayama-Bitaha bersama rumah adat model Lölöwa&#8217;u yang didirikan oleh Museum Pusaka Nias bekerjasama dengan Caritas Italiana</span></p>
<p class="Text" style="margin: 0cm 73.7pt 0pt 0cm;">
<p class="Text" style="margin: 0cm 73.7pt 0pt 0cm;"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Bitstream Vera Serif&quot;; mso-bidi-font-size: 12.0pt;" lang="DE">Setelah situs megalit yang sangat terkenal di desa Olayama, dusun Bitaha,kecamatan Lölöwa’u, Kabupaten Nias Selatan didirikan kembali dan diperbaiki oleh Museum Pusaka Nias bekerjasa dengan masyarakat keturunan Halawa pada bulan November 2007 yang lalu, situs batu-batu megalith berukir seperti patung manusia “ Behu Ni’oniha“ yang rawan maling itu, akhirnya dilindungi dengan membangun satu rumah adat model Lölöwa’u sebagai tempat tinggal keluarga ahli waris.<span id="more-535"></span></span></p>
<p class="Text" style="margin: 0cm 73.7pt 0pt 0cm;"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Bitstream Vera Serif&quot;; mso-bidi-font-size: 12.0pt;" lang="DE"><br />
</span></p>
<p class="Text" style="margin: 0cm 73.7pt 0pt 0cm; text-align: center;"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Bitstream Vera Serif&quot;; mso-bidi-font-size: 12.0pt;" lang="DE"> <img class="size-full wp-image-539 aligncenter" title="img_8498" src="http://www.museum-nias.org/wp-content/uploads/2009/04/img_8498.jpg" alt="img_8498" width="432" height="324" /></span></p>
<p class="Text" style="margin: 0cm 73.7pt 0pt 0cm; text-align: center;"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Bitstream Vera Serif&quot;; mso-bidi-font-size: 12.0pt;" lang="DE"><br />
</span></p>
<p class="Text" style="margin: 0cm 73.7pt 0pt 0cm;">
<p class="Text" style="margin: 0cm 73.7pt 0pt 0cm; text-align: center;"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Bitstream Vera Serif&quot;; mso-bidi-font-size: 12.0pt;" lang="DE">Setelah gempa dan sebelum dikonservasi.</span></p>
<p class="Text" style="margin: 0cm 73.7pt 0pt 0cm;">
<p class="Text" style="margin: 0cm 73.7pt 0pt 0cm;"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Bitstream Vera Serif&quot;; mso-bidi-font-size: 12.0pt;" lang="DE">Di wilayah itu sudah tidak terdapat satu pun rumah adat. Dahulu, terdapat satu rumah adat di sekitar situs megalit dengan tiang “ehomo“ dari batu. Tapi sudah lama hancur. Karena itu, untuk mengembalikan keadaan dan situs sebagai salah satu pusaka budaya pulau Nias, maka Museum Pusaka Nias bekerja sama dengan Caritas Italiana mendirikan rumah adat di sana. Tujuannya adalah agar batu-batu megalit sebagai pusaka budaya masyarakat Nias itu tidak dicuri dan dijual terus oleh orang-orang yang serakah. Selama ini, sudah beberapa kali ada usaha pencurian batu-batu megalit itu. Kelihatannya ada jaringan yang terorganisir untuk mencuri dan lalu menjual. Ada juga dugaan bahwa ada keterlibatan orang dalam pada perbuatan yang tidak terpuji itu.</span></p>
<p class="Text" style="margin: 0cm 73.7pt 0pt 0cm;"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Bitstream Vera Serif&quot;; mso-bidi-font-size: 12.0pt;" lang="DE"> </span></p>
<p class="Text" style="margin: 0cm 73.7pt 0pt 0cm;"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Bitstream Vera Serif&quot;; mso-bidi-font-size: 12.0pt;" lang="DE">Dengan berdirinya satu rumah adat di samping situs megalit, maka situs itu<span style="mso-spacerun: yes;"> </span>menjadi indah dan lengkap. Batu-batu megalit itu diharapkan tidak lagi dicuri karena ada keluarga yang tinggal di situ yaitu Ina Suni Halawa bersama anaka-anaknya karena suami tercinta (Liasa Halawa alm) telah meninggal dunia ketika rumah adat sedangdalam pembangunan.</span></p>
<p class="Text" style="margin: 0cm 73.7pt 0pt 0cm;"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Bitstream Vera Serif&quot;; mso-bidi-font-size: 12.0pt;" lang="DE">Mudah-mudahan usaha semacam ini juga dilakukan oleh berbagai pihak agar pusaka pulau Nias sebagai kekayaan kita tidak hilang terus.</span></p>
<p class="Text" style="margin: 0cm 73.7pt 0pt 0cm; text-align: center;"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Bitstream Vera Serif&quot;; mso-bidi-font-size: 12.0pt;" lang="DE"> <img class="size-full wp-image-540 aligncenter" title="img_8553" src="http://www.museum-nias.org/wp-content/uploads/2009/04/img_8553.jpg" alt="img_8553" width="432" height="324" /></span></p>
<p class="Text" style="margin: 0cm 73.7pt 0pt 0cm; text-align: center;"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Bitstream Vera Serif&quot;; mso-bidi-font-size: 12.0pt;" lang="DE"><br />
</span></p>
<p class="Text" style="margin: 0cm 73.7pt 0pt 0cm; text-align: center;"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Bitstream Vera Serif&quot;; mso-bidi-font-size: 12.0pt;" lang="DE">Gotong royong mendirikan dan mengembalikan keadaan situs.</span></p>
<p class="Text" style="margin: 0cm 73.7pt 0pt 0cm;">
<p class="Text" style="margin: 0cm 73.7pt 0pt 0cm;"><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Bitstream Vera Serif&quot;; mso-bidi-font-size: 12.0pt;" lang="DE">&#8230;&#8230;.Lamane ira satuada na lafasindro Mbehu ma gowe: </span><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Bitstream Vera Serif&quot;; mso-bidi-font-size: 12.0pt;" lang="DE"><strong><span style="color: #008080;">“Manaere tö na manaere, tuwuni ono alawe, aso’a tö na aso’a tuwuni ono matua</span>“</strong>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</span></p>
<img src="http://www.museum-nias.org/?ak_action=api_record_view&id=535&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.museum-nias.org/?feed=rss2&amp;p=535</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peserta Pelatihan Dalam Sesi Nata&#8217;alui Duha</title>
		<link>http://www.museum-nias.org/?p=530</link>
		<comments>http://www.museum-nias.org/?p=530#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2009 02:09:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nataalui.duha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.museum-nias.org/?p=530</guid>
		<description><![CDATA[
 
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-531 aligncenter" title="gelombangv3" src="http://www.museum-nias.org/wp-content/uploads/2009/04/gelombangv3.jpg" alt="gelombangv3" width="360" height="270" /></p>
<p style="text-align: center;"> </p>
<img src="http://www.museum-nias.org/?ak_action=api_record_view&id=530&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.museum-nias.org/?feed=rss2&amp;p=530</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peserta dalam pemanduan Oktoberlina Tel.</title>
		<link>http://www.museum-nias.org/?p=497</link>
		<comments>http://www.museum-nias.org/?p=497#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2009 07:14:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nataalui.duha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.museum-nias.org/?p=497</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-496" title="peserta31" src="http://www.museum-nias.org/wp-content/uploads/2009/03/peserta31.jpg" alt="peserta31" width="302" height="227" /></p>
<img src="http://www.museum-nias.org/?ak_action=api_record_view&id=497&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.museum-nias.org/?feed=rss2&amp;p=497</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
