"We don't KNOW what we THINK until we SEE what we SAY" (Clifford Geertz)

OMO LARAGA MENJADI OMO NIHA SATO

OMO LARAGA MENJADI OMO NIHA SATO
Oleh: Bernard Niali Telaumbanua

Omo Laraga sebagai salah satu dari beberapa tipe rumah adat orang Nias, memiliki kekhasannya sendiri, yaitu bulat oval dengan atap yang tinggi megah. Di masa lalu, ada banyak sekali Omo Laraga ditemukan di wilayah Kabupaten Nias dan Nias Utara, hampir bisa ditemukan beberapa buah Omo Laraga di setiap desa. Namun keadaannya kini sudah berbeda. Omo Laraga menjadi langka, bahkan sulit menemukannya lagi. Ada masyarakat Nias generasi 200an yang tidak pernah melihat Omo Laraga itu lagi. Keadaan ini disebabkan karena banyaknya dari Omo Laraga tersebut tidak terawat, sehingga membusuk dan hancur, terutama bila ditinggal-pergi oleh si pemilik/pewaris.

Salah satu yang masih tersisa ialah Omo Laraga yang berdiri di halaman Museum Pusaka Nias di Jl.Yos Sudarso, Gunungsitoli. Aslinya, Omo Laraga ini, didirikan di Desa Simandraölö Kecamatan Gunungsitoli . Omo Laraga ini mulai dibangun pada tahun 1944 oleh Yosia Telaumbanua alias Ama Zökhi’ato Telaumbanua, yang berprofesi sebagai tukang bersama isterinya Sifaora Telaumbanua dan dibantu oleh Fako’o Laoli. Dia membangunnya sebagai milik dan setelah selesai pada tahun 1946, Omo Laraga itu menjadi tempat tinggal bagi keluarganya.

Pewaris Pertama
Waktu berlalu, umur bertambah tua, anak-anak dari Yosia Telaumbanuapun menjadi dewasa, menikah dan mandiri sehingga mereka mampu membangun rumahnya masing-masing. Karena itu Omo Laraga ini diwariskan kepada anaknya nomor tiga yang bernama Hezatulo Telaumbanua (alias Ama Angeragö). Pewarisan itu dilaksanakan atas dasar kesepakatan kekeluargaan dan disahkan secara adat pada tahun 1958. Sejak itulah Omo Laraga menjadi milik dan tempat tinggal bagi keluarga Ama/Ina Angeragö dan kesembilan orang anaknya. Ama Zokhi’ato dan Ina Wanotona juga tetap tinggal di Omo Laraga yang sama hingga akhir hidupnya.

Dalam perkembangan waktu, Ama dan Ina Angeragö Telaumbanua merasa bahwa Omo Laraga tidak memadai lagi menjadi tempat tinggal bagi kesembilan anaknya. Karena itu, pada tahun 1980, Ama Angeragö membangun satu rumah baru dari batu, bertingkat dua dan dibangun terkaitkan dan menyatu dengan Omo Laraga yang lama.

Ama Angeragö sangat mencintai Omo Laraga itu dan merawatinya secara rutin. Pemeliharaan yang dilakukan secara rutin untuk Omo Laraga adalah menempel atap yang bocor ataupun mengganti atap rumbia yang sudah busuk, serta menyuluh dengan api anai-anai (henu) yang sering kali menyerang batang-batang kayu tiang dan dinding rumah. Hal itu tidak boleh dibiarkan berlama-lama dan mesti dilaksanakan sesegera mungkin! Demikianlah rahasia perawatan Omo Laraga, dilakukan oleh Ama Angeragö, sehingga Omo Laraga itu dapat berusia hingga berpuluh-puluh tahun.

Penyebab Kerusakan
Gempa bumi yang berkekuatan 8,9 SR yang meluluhlantakkan banyak rumah dan gedung-gedung di seluruh pulau Nias pada tahun 2005, telah menggoncang dan merusak Omo Laraga. Sekalipun goncangan gempa itu tidak sampai merobohkan Omo Laraga tersebut, namun goncangan itu telah membuat Omo Laraga yang gagah itu menjadi miring. Kemiringan itu terjadi terutama karena rumah beton yang dibangun terkait dan menempel pada Omo Laraga itu roboh oleh kekuatan gempa. Rumah batu roboh itu menarik Omo Laraga yang kokoh, sehingga menjadi miring dan tidak layak dihuni lagi.

Karena tidak sanggup merehab ataupun membangun Omo Laraga baru, maka Bernard Niali Telaumbanua (anak nomor tujuh dari Ama Angeragö, yang pada masa itu adalah Imam dan Anggota Ordo Kapusin Propinsi Siboga), meminta kepada kedelapan saudaranya untuk mengambil alih Omo Laraga tersebut lalu menyerahkannya ke Museum Pusaka Nias, milik Ordo Kapusin Sibolga, yang dikelola oleh Pastor Johannes M. Hämmerle, OFMCap. Usul itupun diterima baik oleh kedelapan saudaranya. Langkah berikutnya ialah kesembilan bersaudara itu mengutus Angeragö Telaumbanua (Ama Yenny Telaumbanua) untuk memberitahukan rencana penyerahan dan sekaligus meminta restu dari para pewaris pertama (yaitu anak-anak Yosia Telaumbanua), untuk memindahkan Omo Laraga tersebut dari desa Simandraolo.

Izin dan restupun diberi. Maka langkah berikutnya adalah Angeragö Telaumbanua sebagai mewakili pihak pewaris mengadakan kesepakatan dengan Pater Yohannes Haemmerle, OFMCap sebagai pihak penerima, untuk melakukan tindakan eksekusi pemindahan Omo Laraga tersebut dari Desa Simandraolo ke Museum Pusaka Nias di Gunungsitoli. Sejak saat itulah, Omo Laraga tersebut didirikan baru di tengah-tengah halaman Museum Pusaka Nias oleh Pater Yohannes Haemmerle, tetapi dengan ukuran lebih kecil dari ukuran aslinya. Dengan itu, kini, Omo Laraga bukan hanya sebagai rumah tempat tinggal bagi ahli waris dan cucut-piut Yosia Telaumbanua lagi, ataupun rumah adat yang mengingatkan cirikhas masyarakat Nias saja, melainkan menjadi rumah kebanggaan masyarakat Indonesia dan rumah-ramah yang senantiasa terbuka bagi siapa saja bagi masyarakat dari seluruh dunia. Omo Laraga menjadi Omo Niha Sato.

Post a comment