Omo Soarögö Bawagöli, Simbol Supermasi Bawölowalani

I. Pendahuluan

Akhir bulan yang lalu, tepatnya tanggal 27 Februari 2017 saya bersama dua orang rekan (Ugahari Wau dan Marthin Bate’e) menjelajah Bawölowalani Lama salah satu banua (pemukiman) di Nias Selatan, yang berada sekitar 1 km dari pusat kota Telukdalam. Untuk dapat memasuki lokasi ini pengunjung harus berjalan kaki menaiki puing-puing tangga batu yang menjulang tinggi. Pemukiman tradisional suku Nias ini di bangun di atas bukit yang dikelilingi jurang – satu benteng alam yang sempurna untuk melindungi penduduknya yang kerap terlibat perang saudara antar banua di masa lalu.

Setiba di atas dapat disaksikan fisik Bawölowalani namun bukan lagi Bawölowalani kuno yang pernah tersohor itu (si tehönö si teturia). Bawölowalani kuno telah menjadi reruntuhan. Di dalamnya tidak ada satu pun rumah adat yang menjadi ciri khas suku Nias, kecuali 4 unit rumah Melayu yang sangat sederhana, dan 2 gubuk reyot. Selebihnya sejauh mata memandang yang ada hanya hamparan rumput dan tanaman ubi jalar. Batu-batu megalit yang pernah menjadi simbol kehormatan si’ulu (bangsawan) Bawölowalani berserakan tak terawat. Satu kondisi yang memprihatinkan. Berbanding terbalik dengan kebesaran Bawölowalani di masa lalu.

 

II. Kisah Omo Soarögö Bawagöli

Terlepas dari kondisi Bawölowalani saat ini, ada satu hal yang menarik bagi saya dalam kunjungan singkat tersebut yaitu kisah tentang omo nitörö arö (rumah yang akses masuk ke dalam lewat kolong) yang sengaja dibangun tepat di atas pintu gerbang selatan (bawagöli raya) Bawölowalani. Selanjutnya dalam tulisan ini rumah tersebut saya sebut dengan istilah baru sebagai omo soarögö bawagöli (rumah yang menaungi pintu gerbang).

Adalah Ama Rekaman Sarumaha, seorang tetua adat yang memberitahukannya dan menunjuk langsung dimana posisi rumah dimaksud. Informasi ini mengingatkan saya kisah yang pernah diceritakan oleh Nibarasiana’a Fau putri Ruyu sekitar 25 tahun yang lalu. Beliau adalah sosok yang rajin menanamkan nilai-nilai moral kepada anak-cucunya dengan menggunakan kisah-kisah masa lalu sebagai media penyampaian pesan. Dari sekian banyak kisah yang pernah diceritakan oleh Nibarasiana’a, salah satunya adalah tentang omo soarögö bawagöli ini.

Bagian dari cerita yang masih membekas dalam ingatan saya adalah zaman dulu ada seorang si’ulu yang membangun rumahnya di atas jalan umum yang menjadi akses keluar masuk warga. Posisi yang strategis itu dimanfaatkan oleh sang si’ulu untuk menunjukan kemurahan hatinya kepada warganya. Ia menumpuk garam, satu komoditi yang mahal dan langka pada masa itu, di atas dapurnya – awunia moroi ba nasio. Dan ia mewajibkan setiap orang yang lewat di bawah kolong rumahnya untuk mampir mengambil garam seberapapun yang dibutuhkan. Sebaliknya bila ada yang lalu lalang di sana namun tidak mau mengambil garam tersebut akan membuat sang si’ulu tersinggung. Satu kisah yang menarik bagai cerita dongen saja.

Sayangnya dimana lokasi rumah tersebut dan siapa pemiliknya tidak saya ingat lagi. Beruntung boleh bertemu dengan Ama Rekaman Sarumaha. Informasi yang ia sampaikan tentang situs penting di Bawölowalani mengingatkan saya cerita Nibarasiana’a dan sekaligus meyakinkan saya bahwa itu bukan dongen belaka namun sungguh kisah nyata. Terungkap bahwa jalan umum yang dimaksud adalah pintu gerbang selatan (bawagöli raya) Bawölowalani. Dan keterangan tambahan tentang komoditi garam yang disediakan sang si’ulu untuk kebutuhan warganya sangat masuk akal mengingat Bawölowalani berada tidak jauh dari pantai Telukdalam, tempat dimana diambilnya bahan baku memproduksi garam. Pada masa itu Bawölowalani merupakan penguasa atas pelabuhan Telukdalam. Kepada para si’ulunya-lah kapal-kapal asing melapor dan menyerahkan bea pelabuhan.

 

III. Jenis Omo Soarögö Bawagöli

Setidaknya ada 2 jenis rumah tradisional suku Nias yaitu yang berbentuk bulat / oval banyak ditemukan di wilayah Nias bagian Utara dan sekitarnya. Sedangkan yang berbentuk empat segi yang memanjang hanya ada di wilayah Nias bagian Selatan khususnya di daerah yang pernah menjadi wilayah administrasi Kecamatan Telukdalam sebelum pemekaran kabupaten tahun 2003. Rumah yang ada di bagian Selatan walaupun bentuk fisiknya sama semua namun ukuran dan simbol-simbol yang ada di dalamnya dapat dibagi 3 bagian besar lagi yaitu omo nifolasara, omo tuho dan omo sala. Omo nifolasara adalah rumah yang dipasangin lasara (sejenis hewan hibrid yang menjadi pelindung). Jenis rumah ini memiliki ukuran jumbo, akses masuk ke dalam lewat kolong dan hanya ada satu di setiap banua. Biasanya yang memiliki omo nifolasara adalah pendiri banua atau balö zi’ulu (raja) setempat. Sedangkan omo tuho adalah rumah yang mirip dengan omo nifolasara hanya saja tidak dipasangi lasara. Hanyalah kaum si’ulu yang boleh memiliki rumah ini dan jumlahnya bisa lebih dari satu di setiap banua. Baik omo nifolasara maupun omo tuho disebut juga sebagai omo sebua (rumah besar). Terakhir adalah omo sala yaitu rumah rakyat jelata yang memiliki ukuran jauh lebih kecil dan akses ke dalamnya lewat samping.

Pertanyaannya adalah jenis rumah apa yang ada di pintu gerbang selatan Bawölowalani itu? Karena rumah tersebut adalah omo nitörö arö maka hanya ada 2 kemungkinan yaitu omo nifolasara atau omo tuho. Dan untuk memastikannya maka harus diketahui siapa si’ulu dimaksud? Menurut Ama Rekaman Sarumaha, nama si’ulu pemilik omo soarögö bawagöli adalah Lavfo Sarumaha putra dari Laheganöwö. Ia adalah sepupu (sifaedono zimatua) dari Faosi Aro Sarumaha putra Tugelamoyo. Dari penuturan lisan dan kesaksian Elio Modigliani, penjelajah Italia yang pernah singgah di Bawölowalani diketahui bahwa Faosi Arolah yang menjadi balö zi’ulu setempat. Artinya Lavfo Sarumaha hanyalah si’ulu biasa dan tidak mungkin ia memiliki omo nifolasara. Dengan demikian bisa dipastikan bahwa jenis omo soarögö bawagöli adalah omo tuho.

 

IV. Simbol dari Omo Soarögö Bawagöli

Apa istimewanya rumah si’ulu Lavfo Sarumaha itu? Bukankah tingkatan omo nifolasara milik Faosi Aro Sarumaha masih satu tingkat di atasnya? Memang betul di Nias Selatan omo nifolasara menempati posisi tertinggi, disusul omo tuho dan terakhir omo sala. Walaupun demikian omo tuho milik Lavfo Sarumaha yang berada tepat di atas pintu gerbang utama, satu titik dimana semua orang termasuk balö zi’ulu dan para si’ulu lain lalu lalang di bawah kolongnya membuatnya menjadi lebih istimewa – nilainya setara dengan omo nifolasara, kalau bukan lebih.

Untuk diketahui baik omo nifolasara maupun omo tuho sengaja dibuat jalan masuk melewati kolong rumah bukan hanya karena alasan tiang-tiangnya (ehomo) yang tinggi sehingga terpaksa dibangun jalan alternatif di bawah kolong rumah. Tentulah tidak sesederhana itu. Pasti ada maksud lain di baliknya. Sikap hormat, tunduk dan penghargaan adalah filosofi hidup yang mendasari dibangunnya jalan masuk lewat kolong rumah para si’ulu. Artinya siapapun yang hendak masuk ke rumah para si’ulu ia harus memiliki sikap tadi – ini adalah kearifan lokal suku Nias yang wajib dipelihara, sesuatu yang tidak dibuat-buat namun lahir dari perenungan hidup sekian generasi. Kembali kepada omo tuho milik Lavfo Sarumaha di atas pintu gerbang atau omo soarögö bawagöli, ini membuat marwah pemiliknya sedemikian besar.

Bisa dipastikan keberadaan rumah tersebut tidak terlepas dari kompetisi antar si’ulu Nias. Sudah menjadi rahasia umum bahwa zaman dulu para si’ulu berlomba keras untuk dapat menjadi yang terdepan diantara rekan-rekan lainnya. Segala cara digunakan untuk dapat meraih kekuasaan, kehormatan dan pengaruh atas orang banyak (sato). Dalam kasus tertentu tidak sedikit peperangan atau perpecahan banua terjadi hanya karena keingingan meraih ambisi tersebut. Walaupun demikian harus diakui juga bahwa cara-cara yang sehat tetap menjadi pedoman mereka, salah satunya yaitu cara yang digunakan oleh Lavfo. Sekalipun pada masa itu ia tidak menduduki posisi sebagai balö zi’ulu yang memegang kekuasaan tertinggi, namun ia mampu bersaing secara sehat dengan sepupunya dengan cara membangun rumahnya di tempat yang tidak biasa, pintu gerbang. Dan pastinya membangun rumah di tempat terhormat itu tidaklah mudah. Dapat dibayangkan bagaimana masyarakat banyak dan para si’ulu menentang rencananya. Namun bila akhirnya Lavfo sukses mewujudkan impiannya itu menegaskan bahwa ia memang sosok yang berpengaruh di sana. Di atas pintu gerbang Bawölowalani ia mengokohkan pengaruhnya dan memproklamirkan supermasi kaumnya, kaum si’ulu sekaligus supermasi banua-nya banua Bawölowalani. Atas prestasi itu bukan hanya Lavfo yang terkenal, bukan pula hanya kaum si’ulu yang tersohor namun itu menjadi milik fabanuasa Bawölowalani. Singkatnya omo soarögö bawagöli menjadi simbol supermasi Bawölowalani atas daerah-daerah sekitarnya. Kehormatan, kekuasaan, keagungan dan semua bentuk kemegahan Bawölowalani terpancar dari omo soarögö bawagöli-nya yang kokoh berdiri di atas pintu gerbang. Bila bagi rumah Laowö Fau di Bawömataluo sering dilantunkan syair hoho (floklor)  ‘Maiotamahögö Mazinö, maisalogoi Maenamölö’ maka untuk rumah Lavfo Sarumaha ini sepertinya tepat dilantukan hoho demikian ‘Maiotamahögö siefo nasi, maioarögo mbanua sato’.

 

V. Penutup

Kini omo soarögö bawagöli tinggal kenangan. Simbol supermasi Bawölowalani itu telah lenyap ditelan zaman. Berangkat dari kenyataan itu mari kita menjaga bersama omo nifolosara / omo nitörö arö / omo sebua, simbol supermasi banua-banua suku Nias yang masih tersisa di tanah ini diantaranya yang terdapat di Bawömataluo, Hilinawalö Fau, Hilinawalö Mazinö dan Ono Hondrö. Adalah tanggungjawab pemerintah daerah-pusat dan masyarakat Nias sendiri untuk merawat keberadaan warisan leluhur ini. Jangan ada pemikiran ‘itu bukan urusan saya, bukan milik keluarga saya, apa kepentingan saya atas keberlangsungannya’. Harus diakui bahwa keberadaan omo sebua di setiap banua punya andil mengangkat marwah (lakhömi) banua. Dan marwah banua-banua di seantero Nias ikut mempengaruhi marwah Nias secara umum. Kita apresiasi usaha banyak pihak yang telah membangun kembali omo sebua di Hilimondregeraya dan Hiliamaetaniha. Kita merindukan di setiap banua boleh ada minimal satu omo sebua sebagaimana pada zaman dulu.

Khusus untuk Bawölowalani, mengingat keunikan omo soarögö bawagöli-nya dan posisinya yang strategis di atas kota Telukdalam, mungkin akan lebih tepat bila pemukiman lama itu dibangun kembali dan dikhususkan menjadi objek wisata baru di Nias Selatan. Akan makin lengkap bila nanti dipadukan dengan situs rohani yang terletak tidak jauh dari situ yaitu gedung gereja peninggalan para misionaris Jerman. Alasannya sederhana, lokasi dimana gereja dimaksud adalah bagian tak terpisahkan dari teritori Bawölowalani. Keduanya dapat mewakili wajah Nias-Kristen. Semoga!!!

Penulis: Samuel Novelman Wau

Post a comment