Tarian dan Musik Nias

Tari dan musik selalu memainkan peranan penting di Nias. Pengunjung awal ke Nias menggambarkan melihat pertunjukan tari spektakuler di desa-desa dimana mereka menginap. Banyak tarian dan lagu-lagu adalah untuk acara-acara bahagia seperti pernikahan, sementara yang lain persiapan untuk perang atau ekspresi kesedihan. Ketika mayoritas penduduk Nias masuk agama Kristen, tradisi musik terus berjalan dan sebagian besar dari setiap kebaktian gereja dikhususkan untuk musik. Orang-orang Nias sekarang terkenal untuk menjadi penyanyi yang sangat berbakat dan pemusik.

Tarian tradisional

Tarian adalah bagian penting dari budaya Nias, dan ada berbagai jenis tarian untuk berbagai acara.

Fanari Moyo (Tari Elang): Tari Moyo ini biasanya ditarikan oleh para penari wanita dengan gerakan hampir mirip dengan gerakan Elang yang sedang terbang dan mengepakkan sayapnya. Tarian ini melambangkan kegigihan dan semangat burung elang dan rakyat Nias. Tari Moyo kadang-kadang ditampilkan setelah atau sebelum satu acara atau perayaan.

musuem_pusaka_nias_istiadat_tari_moyo

Fanari Moyo (Tari Elang): Kiri: Sifaoro'asi Gomo, Nias Selatan. Kanan: Afulu, Nias Utara.

Maena: Tarian ini termasuk jenis tarian rakyat yang dilakukan secara bersama-sama  atau masal.  Kelompok-kelompok pria maupun wanita berbaris dan menari. Biasanya diawali dengan pantun yang dibawakan oleh pembawa acara.  Untuk pantun yang dibawakan biasanya disesuaikan dengan tema acara. Kemudian dilanjutkan dengan syair maena (fanehe maena) yang dilantunkan semua penari sambil menari.  Ini adalah tarian yang paling populer dan menyenangkan di Nias. Semua orang Nias tahu langkah-langkah untuk tarian ini.

musuem_pusaka_nias_istiadat_maena

Tari Maena di Museum Pusaka Nias pada hari ulang tahun 2015.

Fatele (Tari Perang): Fatele adalah tarian perang yang terkenal dari Nias Selatan. Pada dasarnya ini adalah berlakunya kembali pertempuran, dengan banyak prajurit dengan pakaian tanda kerajaan mengambil bagian. Tarian ini mengikuti naskah tertentu dan mirip dengan pertunjukan di panggung sandiwara. Tarian ini sangat realistis dan prajurit biasanya masuk ke karakter sampai terlihat seperti pertempuran nyata akan terjadi.

musuem_pusaka_nias_istiadat_tari_perang

Fatele (Tari Perang) di Desa Bawömataluo, Kab. Nias Selatan. Foto dari Agus Mendröfa.

Famanu - Manu (Tari Perang): Akhir tarian perang Fatele, di mana pahlawan desa mengalahkan musuh dalam perang tanding.

musuem_pusaka_nias_istiadat_tari_perang_famanu

Wajah pendekar selama Famanu - Manu (Tari Perang) waktu Pesta Ya'ahowu, Teluk Dalam tahun 2016.

Ada banyak tarian yang bisa dikategorikan sebagai 'tarian sambutan' yang dilakukan di upacara-upacara untuk penyambutan pengunjung penting.

Bölihae: Ini adalah tarian pertama dalam sambutan upacara dan nyanyian dalam perjalanan menuju ke desa dan rumah tuan rumah penyelenggara pesta. Pengunjung berjalan menuju sebuah desa ditemui oleh perwakilan dari tuan rumah, sebagai sambutan awal dan juga menunjuk jalan ke pengunjung ke rumah tuan rumah. Dengan mendengar nyanyian ini di kejauhan, tuan rumah tahu bahwa pengunjung mendekati. Lebih sering dilakukan ketika ada pesta perkawinan.

Fahimba: Juga disebut tari Humba. Ini adalah tahap kedua dari sambutan upacara yang dilakukan oleh tuan rumah ketika pengunjung tiba. Tarian ini melibatkan beberapa seni sandiwara dan aspek dari tari perang. Pada awalnya, ketika tamu tiba, tidak jelas apakah pengunjung itu ramah atau penyusup. Para wanita di rombongan menempatkan diri mereka di tengah untuk menghindari perkelahian apapun. Tanggapan dari tamu terhadap tarian ini adalah dengan tarian Hiwö.

Hiwö: Tari yang dilakukan oleh pengunjung saat mereka tiba di rumah tuan rumah. Penari laki-laki memegang tangan dan menari saling serong menuju ke tuan rumah. Tarian ini melibatkan beberapa seni sandiwara dan aspek dari tari perang. Pada awalnya ketika tamu tiba, tidak jelas apakah tuan rumah itu menyambut mereka atau memperlakukan seperti mereka itu penyusup. Para wanita di rombongan menempatkan diri mereka di tengah untuk menghindari perkelahian apapun. Tanggapan dari tamu terhadap tarian ini adalah dengan tarian Himba.

musuem_pusaka_nias_istiadat_tari_hiwo

Sekarang tarian ini sering ditampilkan pada acara besar waktu tamu penting datang.

Maluaya: Satu tarian sambutan lain dari Nias Selatan. Ini dipertunjukkan oleh laki-laki dan perempuan bersama-sama di tengah-tengah lapangan desa tradisional.

Mogaele: Ini adalah tarian di mana penari perempuan menawarkan sekapur sirih dari tas khusus kepada tamu penting. Hari ini tarian ini sering dilakukan ketika tamu penting seperti menteri atau pegawai pemerintah mengunjungi Nias. Tari Mogaele adalah nama tarian ini di Nias Selatan. Di Nias Utara tarian ini disebut tari Famaola gö afo.

musuem_pusaka_nias_istiadat_tari_fahimba

Tari Mogaele waktu Pesta Ya'ahowu, Teluk Dalam tahun 2016.

museum_pusaka_nias_istiadat_mogaele

Di Nias utara tarian Mogaele disebut tari Famaola gö afo.

Manaho: Ini adalah tarian untuk menyambut tamu yang unik untuk Pulau-pulau Batu, Nias Selatan.


Musik dan Alat-alat Musik Tradisional

Musik adalah merupakan bagian penting dari budaya Nias. Kebanyakan dari etnis orang Nias bisa memainkan alat musik dan banyak yang menikmati bernyanyi.

Jenis-jenis musik tradisional

Digital StillCamera

Penyani "Hoho" dari desa Hilinawalö di Nias Selatan.

Hoho: Di Telukdalam dinyanyikan oleh 5 atau 7 orang; yang memimpin ialah ere hoho. Biasanya syairnya terdiri dari perumpuan dan cerita maupun sejarah. Di Nias Utara hoho hanya dituturkan.

Hendri Hendri: Dinyanyikan pada waktu pernikahan atau pesta tradisional sebagai tanya jawab bersahut-sahutan antara tamu dan pengunjung. Lagu-lagu bisa sebagai pengantar atau komentar tentang pengunjung. Awalnya pria dan wanita bernyanyi secara terpisah, tetapi bergabung pada akhirnya. Akhirnya kelompok kecil perempuan menyanyikan bernada tinggi, lagu yang dinyanyikan pada semua pernikahan.

Maola: Lagu dari para tamu dan juga sambutan bagi para tamu oleh tuan rumah ketika ada pesta adat.

Famaola: Terutama di Nias utara. Laki-laki tuan rumah salam tamu sebelum persembahan sekapur sirih.

Mo’ere: Doa yang dinyanyikan oleh seorang iman sambil memukul tambur (fondrahi).

Gözö-gözö: Seorang bernyanyi sambil bekerja atau sambil berjalan.

Famolaya iraono: Seorang bayi digendong dan diayun dengan nyanyian sederhana (solo).

museum_pusaka_nias_musik_nyanyi

Ada banyak lagu terkenal yang terkait dengan tarian seperti Maena, Bölihae, Fahimbo dan Hiwö.

Lailö: Lagu atau nyanyian hiburan secara umum baik dalam keadaan sedih maupun gembira atau bahagia.

Böli: Nyanyian hiburan.

Ngenu-ngenu: Nyanyian untuk mengekspresikan kesedihan dan penderitaan (solo).

Böli-böli: Nyanyian hiburan untuk orang yang berduka. Dinyanyikan oleh minimal 5 orang penyanyi.


Alat musik tradisional Nias

Banyak alat-alat musik disini bisa di lihat di pameran museum. Museum juga membuat alat musik traditional Nias untuk dijual dan juga bisa melatih orang tentang cara memainkannya.

Doli-doli gahe: Biasanya dipakai di ladang, terdiri dari 4 kayu yang berbeda nadanya. Ini biasanya di tempatkan di atas lutut seorang yang sedang duduk dan dimainkan dengan menggunakan tongkat pendek. Sebuah versi yang lebih canggih dapat digunakan di mana kayu-kayu itu ditempatkan pada tempat berdiri khusus. Di selatan, alat musik ini dikenal sebagai Doli Doli Hagita.

museum_pusaka_nias_ala_musik_doli_doli_gahe

Kiri: doli-doli gahe. Kanan: doli-doli hagita.

museum_pusaka_nias_alat_musik_doli_doli_haua

Doli-doli haua, ~ bue: Satu batang kayu (laore, bayo, bui) kira-kira 1,3 m panjang. Bagian bawah  dipahat seperti siku yang memanjang. Ujung yang satu digantung   dengan tali seperti bue, ujung lain dipegang, diputar-putar dan dipukul, sehingga menghasilkan 3 nada. Memainkan alat musik ini terkait dengan memberi dan berbagi saran tradisional dari nenek moyang.

Lagia: Alat musik dengan satu tali yang digesek. Musik ini di bunyikan sambil bernyanyi dengan tujuan untuk menyampaikan keluh kesah si pemain.

Raba (Tello):  Di tempurung kelapa dipasang satu tangkai kayu dengan 1 tali. Alat musik gesek.

museum_pusaka_nias_alat_musik_lagia_raba

Kiri: Lagia. Kanan: Raba dari Pulau-pulau Batu (Tello)

Göndra: Gendang yang gemuk yang dipasang kulit sebelah-menyebelah. Ini sering dimainkan pada awal upacara, seperti pernikahan dan kedatangan tamu penting. Ini dimainkan dengan dua batang bambu.

museum_pusaka_nias_istiadat_alat_musik_gondra

Gendang Gondra adalah salah satu instrumen yang paling penting yang digunakan di acara-acara resmi dan upacara seperti pernikahan

museum_pusaka_nias_alat_musik_rafai

Gendang Rafa'i

Rafa’i: Gendang yang didudukkan di atas tanah ketika dibunyikan.

Tamburu: Gendang kecil yang dipasangin kulit sebelah-menyebelah. Sering dimainkan di pesta pernikahan.

Fondrahi: Tambur panjang, biasanya dibunyikan oleh imam dulu. Ini dipegang di bawah lengan saat bermain. Hampir sama dengan gendang "Tutu" tetapi sedikit lebih kecil.

Tutu: Bedug  yang lebih panjang, l/k 1 m; kulit dipasang hanya sebelah. Bedug ini terutama digunakan di Nias Selatan di upacara keagamaan. Ini  dipasang di atap rumah dan dimainkan dengan tangan. Hampir sama dengan gendang "Fondrahi" tetapi sedikit lebih besar.

museum_pusaka_nias_alat_musik_gendang

Berbeda jenis gendang di Nias; Kiri: Tamburu. Tengah: Fondrahi. Kanan: Tutu.

Tamburana:  Bedug  yang paling panjang, l/k 3 m; hanya di rumah bangsawan.

museum_pusaka_nias_alat_musik_tamburana

Gendang Tamburana di plafon rumah bangsawan (Omo Sebua) di desa Bawömataluo.

Sigu lewuö: Serunai [surune] dari bambu

Riri-riri lewuö (Gomo): Riwi-riwi lewuö di Nias Utara. Alat dari bambu yang ditiup.

Fifi Wofo: Alat sederhana yang ditiupkan untuk meniru suara burung (juga dikenal sebagai ufu-ufu). Ini digunakan oleh pemburu untuk menangkap burung. Ini bisa dibuat secara sangat cepat dengan memotong sempalan dari bambu atau kayu lain yang sejenis.

museum_pusaka_nias_alat_musik_seruling

Kiri: Sigu Lewuö. Tengah: Ri-ri Lewuö. Kanan: Fifi Wofo.

museum_pusaka_nias_alat_musik_tutu_hao

Tutu Hao

Tutu hao/ Tutu haena: Dibuat cukup artistik dari ruas bambu menghasilkan dan dapat menggantikan bunyi tiga alat musik: Aramba, Göndra dan Faritia. Unik untuk Nias, tidak ditemukan di tempat lain.

duri-gahe

Duri Gahe

Duri gahe: Juga disebut duri mbalö duhi. 2 batang bambu dipukuli pada lutut.

 

museum_pusaka_nias_istiadat_alat_musik_tamburu_dano

Tamburu Danö

Tamburu danö: Digali satu lobang dalam tanah yang ditutupi dengan mowa wino; di sebelah atas dipasang tali dari wewe iti-iti (ici-ici).

museum_pusaka_nias_alat_musik_riti_sole

Riti-riti Sole

Riti-riti sole: Tempurung kelapa dengan biji-bijian di dalam; digoyangkan.

 

Tabolia: Dari bambu kuat, dari lewuöguru. Alat untuk memanggil orang.

Koko-koko, kato-kato: Dari kayu manawa danö atau bayo. Alat untuk memanggil warga jika ada peristiwa.

museum_pusaka_nias_alat_musik_koko_koko

Kiri: Tabolia dari bambu. Tengah dan Kanan: Koko-koko dari kayu.

Alat-alat musik baru

Faritia: Canang, biasanya harus dua ketika dibunyikan, dengan nada yang berbeda; dipakai pada pesta perkawinan.

Aramba: Gong besar; dipakai pada perkawinan dan pada pesta-pesta lain.

museum_pusaka_nias_alat_musik_aramba_faritia

Kiri: Faritia. Tengah dan kanan: Aramba.

museum_pusaka_nias_alat_musik_mage_mage

Mage-mage atau Koroco.

Mage-mage/Koroco: Keroncong, seperti mini gitar. Sangat populer dengan pemuda-pemuda. Ini adalah alat musik yang paling biasa di Nias.

 

Ndruri mbewe: Dari besi; dibunyikan di depan mulut yang terbuka; mungkin dibawa ke Nias oleh para misionaris.

Ndruri weto: Mungkin meniru Duri mbewe; bahan dari pohon Feto.

museum_pusaka_nias_ala_musik_ndruri

Kiri dan Tengah: Ndruri Mbewe. Kanan: Ndruri Weto.

museum_pusaka_nias_alat_musik_feta_batuAlat-alat musik yang paling baru

Feta batu: Diciptakan di desa Bawömataluo oleh Hikayat Manaö. Diinspirasi oleh wartawan KOMPAS sehingga muncul konser Megalitikum Kuontum. Jenis musik ini sebelumnya TIDAK secara tradisional dimainkan di Nias.


 

MUSIK NIAS

info_museum_pusaka-nias_8Sumatra d'hier et d'aujourd'hui – Claude Jannel (Musik dari Sumatera termasuk Nias).
1980 Le Monde en Musique.

info_museum_pusaka-nias_9Music of Indonesia, Vol. 4: Music of Nias and North Sumatra
1992 Smithsonian Folkways Recordings. 
Tersedia online disini 

info_museum_pusaka-nias_10Nias: Epic songs and instrumental music
1995 PAN Records. Tersedia  online disini 

info_museum_pusaka-nias_11Musik Tradisional Nias Hoho Hilinawalö Fau
Museum Pusaka Nias, 2007

Alat alat musik untuk di jual

Alat musik berikut adalah untuk dijual di museum. Kebanyakan dari mereka dibuat di museum oleh staf kami, yang lain dibuat oleh pengrajin di masyarakat.

 

museum_pusaka_nias_ala_musik_doli_doli_gahe2Doli-Doli Hagita/Gahe Rp 650.000

 

museum_pusaka_nias_alat_musik_doli_doli_haua2Doli-Doli Haua Rp 150.000

 

lagia Lagia Rp 650.000

 

rabaRaba Rp 75.000

 

gondraGöndra Rp 2.400.000

  

museum_pusaka_nias_alat_musik_rafaiRafa'i Rp 1.200.000

 

tamburuTamburu Rp 500.000

 

fondrahiFondrahi Rp 1.500.000

 

museum_pusaka_nias_alat_musik_tutu

 Tutu Rp 1.500.000

 

sigu-lewuoSigu Lewuö Rp 150.000

 

museum_pusaka_nias_alat_musik_riri_lewuoRi-ri Lewuö Rp 50.000

 

tutu-haoTutu Hao Rp 300.000

 

duri-gaheDuri Gahe Rp 120.000 

 

museum_pusaka_nias_alat_musik_riti_soleRiti-riti Sole Rp 300.000

 

museum_pusaka_nias_alat_musik_tabolia

 Tabolia Rp 300.000

museum_pusaka_nias_alat_musik_koko_koko2
Koko, Kato-kato Rp 300.000

 

museum_pusaka_nias_alat_musik_faritia2Faritia Rp 1.500.000

 

museum_pusaka_nias_alat_musik_aramba1Aramba Rp 2.600.000

 

mage-mageMage-mage, Koroco Rp 300.000

 

ndruri-mbewe Ndruri Mbewe Rp 350.000

 

museum_pusaka_nias_ala_musik_ndruri_wetoNdruri Weto Rp 175.000


 

© Yayasan Pusaka Nias 2017. Design by Björn Svensson & Shanti Fowler